Rifasyah
Gita mencintai Alkana sejak kelas satu SMP.
Tujuh tahun lamanya ia menyimpan rasa. Diam-diam, setia, dan tak pernah benar-benar pergi, meski Alkana berganti pasangan berkali-kali di depan matanya.
Ketika akhirnya kesempatan itu datang dan mereka resmi bersama, Gita percaya semesta sedang mengembalikan semua penantiannya. Namun cinta yang diperjuangkan terlalu lama ternyata tak selalu tumbuh sehat. Sebuah buku diari yang terbuka, ego yang tak terkendali, dan bayang-bayang masa lalu perlahan mengubah mimpi menjadi luka.
Gita belajar bahwa bertahan tidak selalu berarti menang.
Dan mencintai terlalu lama bisa membuat seseorang kehilangan dirinya sendiri.
Saat ia memilih pergi untuk menyelamatkan hatinya, Raden hadir. Tenang, dewasa, dan tidak banyak janji. Bersamanya, Gita menemukan cinta yang tidak menggebu, tetapi menenangkan. Cinta yang tidak menuntut untuk dimiliki, melainkan dirawat.
Namun masa lalu tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya berubah cara memandang. Kadang dari balik akun anonim, kadang dari jarak yang tak lagi bisa disentuh.
Bertahun-tahun kemudian, Agatha, putri Gita dan Raden, menemukan diari ibunya. Dari halaman-halaman yang penuh tinta dan air mata, dia membaca bukan hanya kisah cinta, tetapi warisan luka, keberanian untuk pergi, dan keputusan untuk memilih bahagia. Karena pada akhirnya, hidup bukan tentang siapa yang paling lama mencintai. Melainkan siapa yang berani memilih dirinya sendiri.
Ada cinta yang akhirnya dimiliki.
Ada pula cinta yang selamanya hanya bisa melihat... dari satu sisi.