RaishaLune
- Reads 1,811
- Votes 475
- Parts 55
Di era ketika teknologi mampu meniru manusia, seorang ilmuwan berhasil melangkah lebih jauh.
Ia tidak hanya menciptakan robot.
Ia menciptakan kehidupan.
Ervin dan Dey adalah humanoid yang dibuat dari janin manusia. Mereka tumbuh, belajar, dan berkembang seperti remaja pada umumnya. Berpikir cepat. Beradaptasi. Terus diperbarui menjadi lebih sempurna.
Namun kesempurnaan tidak selalu berarti sama.
Vin-egois, ambisius, dan mudah tersulut emosi.
Dey-hangat, lembut, dan penuh empati yang tak terjelaskan oleh logika mesin.
Dua manusia robot.
Dua kepribadian yang bertolak belakang.
Mereka hidup di tengah dunia yang tidak mengetahui siapa diri mereka sebenarnya. Sekolah, pertemanan, persaingan, dan konflik remaja perlahan menguji batas kemampuan mereka-bukan hanya sebagai robot, tetapi sebagai individu.
Karena semakin mereka tumbuh, satu hal mulai terasa:
Perasaan tidak pernah ada dalam sistem pembaruan mana pun.
Dan ketika emosi mulai memengaruhi keputusan, kehidupan mereka sebagai "manusia robot" tidak lagi sesederhana yang dibayangkan.