psah_prod2026
Satu Mandat. Satu Pedang. Fajar Terakhir di Ambang Kepunahan.
Dahulu, Benua Aethelgard adalah mahakarya harmoni yang diciptakan oleh Mahadewa Pencipta Surya. Dari Istana Cahaya, sang Pencipta menjaga keseimbangan lima ras dengan sempurna. Namun, kedamaian itu hancur berkeping-keping saat Raja Iblis Azazel mengkhianati kodratnya. Dengan kekuatan "Kegelapan Absolut", ia meracuni inti dunia dan menyeret Aethelgard ke dalam malam abadi yang tak berujung.
Di tengah ratapan dunia yang sekarat, sang Mahadewa menjatuhkan titah terakhir-Nya. Ia menarik sebuah jiwa melintasi ruang dan waktu untuk menjadi perpanjangan tangan-Nya.
Lucca Askara.
Terlempar dari kehidupan damainya di dimensi fana, Lucca harus menerima takdir yang tak terelakkan: Menjadi Pahlawan Cahaya utusan langsung Sang Pencipta. Setelah menjalani penempaan neraka di Kerajaan Suci Arunika dan menggenggam Pedang Suci Excalibur, Lucca diutus untuk merebut kembali kebebasan dunia yang telah membusuk.
"Aku tidak datang untuk bernegosiasi dengan kegelapan," ujar Lucca dingin di hadapan jutaan pasukan iblis. "Aku di sini sebagai bukti bahwa perintah Sang Mahadewa mengalir di nadiku, dan cahaya-Nya tidak akan pernah benar-benar meninggalkan dunia ini."
Bersama Sang Putri Peri, Elara van Duke, Lucca harus menembus reruntuhan Hutan Keabadian, menyatukan ras yang terpecah, dan menyucikan kembali Artefak Suci yang telah dinodai. Setiap langkahnya adalah pertaruhan nyawa melawan kengerian Azazel yang tak terhitung jumlahnya.
Apakah keberanian Lucca cukup untuk menembus kegelapan Azazel? Ataukah Aethelgard akan menjadi kuburan abadi bagi cahaya Sang Surya?
"Takdir tidak memilih mereka yang siap, ia memilih mereka yang bersedia menjadi fajar saat dunia memilih untuk padam."