qarassyaik
Di tengah hiruk-pikuk kota metropolitan yang tak kenal lelah, tersembunyi kisah mengharukan tentang seekor kucing jalanan tanpa nama. Novel ini mengajak pembaca menyelami perjalanan spiritual dan emosional makhluk kecil yang terlupakan, melalui prosa liris yang memukau dan deskripsi yang menawan.
Protagonis kita, si kucing tak bernama, adalah perwujudan kesendirian di tengah keramaian. Dengan latar belakang lansekap urban yang dingin dan tak berperasaan, dia memulai odyssey-nya yang penuh cobaan. Setiap langkah cakarnya di atas aspal yang kasar menceritakan kisah perjuangan dan ketabahan.
Penulis dengan cermat menggambarkan kontras antara dunia manusia yang sibuk dan dunia si kucing yang terisolasi. Melalui mata kucing ini, pembaca diajak untuk merefleksikan makna eksistensi, belonging, dan nilai-nilai kemanusiaan yang sering terlupakan dalam pusaran modernitas.
Gaya bahasa yang digunakan sangat puitis dan kaya akan metafora. Deskripsi tentang kota, dengan gedung-gedung pencakar langitnya yang menjulang, menjadi alegori sempurna tentang kesenjangan dan alienasi. Sementara itu, parit-parit kotor dan bau yang menjadi tempat singgah si kucing menggambarkan dengan jelas marginalisasi yang dia alami.
Novel ini bukan sekadar kisah seekor kucing; ini adalah sebuah renungan mendalam tentang kondisi manusia modern. Melalui perjalanan si kucing, pembaca diajak untuk mempertanyakan kembali nilai-nilai yang dianut masyarakat, serta merenungkan arti sebenarnya dari kasih sayang dan empati.
Dengan narasi yang mengalir lembut namun penuh kekuatan, penulis berhasil menciptakan sebuah karya yang menggugah jiwa. "Akan Kupanggil Sebuah Nama, yaitu Namamu" adalah sebuah masterpiece yang memadukan keindahan bahasa dengan kedalaman makna, menghadirkan pengalaman membaca yang tak terlupakan dan menggetarkan hati.