ruzaayoraa
- Reads 3,742
- Votes 50
- Parts 39
Ruan dikenal sebagai masalah berjalan-liar, tengil, dan tak pernah peduli batas. Kata-katanya tajam tanpa saringan, tindakannya sering berakhir kacau. Tapi di balik sikapnya yang santai dan penuh tawa, ada sisi gelap yang membuat orang berpikir dua kali untuk mendekat.
Lingga adalah kebalikannya.
Tenang, rapi, dan hangat. Ia menyukai hal-hal sederhana-ketenangan, keindahan, dan keteraturan. Ia ramah pada semua orang, tapi punya satu prinsip yang tak bisa ditawar: menjauhi kekacauan. Dan Ruan adalah definisi dari kekacauan itu sendiri.
Segalanya berubah saat suatu malam, Lingga menemukan Ruan dalam keadaan terluka setelah perkelahian. Tak ada yang peduli padanya saat itu-kecuali Lingga.
Bagi Lingga, itu hanya bentuk kemanusiaan.
Bagi Ruan... itu awal dari sesuatu yang tidak bisa ia kendalikan.
Sejak hari itu, Lingga menjadi pusat dunianya. Bukan sekadar rasa suka-melainkan obsesi yang perlahan tumbuh menjadi kebutuhan. Ruan mulai mengikuti, mengganggu, dan masuk ke kehidupan Lingga dengan cara yang membuatnya semakin tidak nyaman.
Bagi Lingga, Ruan adalah masalah yang harus dijauhi.
Bagi Ruan, Lingga adalah satu-satunya hal yang tidak bisa ia lepaskan.
Dan semakin Lingga menjauh... semakin Ruan mendekat.