ecyu11
"Saya datang untuk berobat, Dok. Bukan untuk jatuh cinta."
Ibrahim Malik tahu betul bagaimana cara menyembuhkan orang lain.
Sebagai dokter spesialis obstetri dan ginekologi, ia terbiasa menghadapi tangis, kecemasan, kehilangan, dan harapan dari banyak perempuan yang datang ke ruang praktiknya.
Namun ada satu hal yang tidak mampu ia sembuhkan.
Luka di hatinya sendiri.
Pernikahan yang gagal di usia muda membuat Ibrahim memutuskan untuk tidak lagi memberi kesempatan kepada cinta. Baginya, hidup akan jauh lebih mudah jika hanya diisi dengan pekerjaan, rutinitas, dan kesendirian.
Sampai seorang pasien bernama Janena datang.
Sepuluh tahun lebih muda darinya, ceria, keras kepala, penuh ambisi, dan terlalu banyak bicara untuk ukuran seorang pasien.
Janena datang ke rumah sakit dengan masalah yang ingin segera ia selesaikan agar bisa kembali mengejar kariernya sebagai seorang penulis.
Ia tidak pernah menyangka bahwa dokter yang awalnya ia anggap dingin dan menyebalkan justru perlahan menjadi seseorang yang paling sering memenuhi pikirannya.
Begitu pula Ibrahim.
Ia tahu Janena adalah pasiennya.
Ia tahu ada batas yang tidak boleh dilewati.
Dan ia tahu perasaan yang mulai tumbuh di antara mereka adalah sesuatu yang seharusnya tidak pernah ada.
Karena bagi Ibrahim, mencintai Janena berarti mempertaruhkan kembali hati yang sudah susah payah ia lindungi.
Sementara bagi Janena, mencintai Ibrahim berarti memilih antara seseorang yang membuat hatinya berdebar.
atau masa depan yang selama ini ia perjuangkan.
Mereka bertemu di tempat yang salah.
Dengan keadaan yang salah.
Dan mungkin, pada waktu yang paling tidak tepat.
Tapi bagaimana jika justru orang yang datang sebagai pasien.
adalah orang yang ditakdirkan untuk menjadi tempat pulang?
Ibrahim harus menghadapi alasan mengapa ia berhenti percaya pada cinta.
Kadang, seseorang datang bukan untuk menyembuhkan luka kita.
Ia datang untuk menunjukkan bahwa setelah terluka, hati kita masih bisa memilih untuk mencintai lagi.