akangberbi
- Reads 152
- Votes 62
- Parts 24
04.00 WIB. Bangun di Cikarang.
05.30 WIB. Perang di Commuter Line.
08.00 WIB. Masuk ke kandang singa di Jakarta Selatan.
Bagi Kinanti Aruna, hidup adalah soal bertahan hidup. Dia adalah "Putri Gerbong" yang ditempa kerasnya rel kereta dan dinginnya AC gerbong yang sederhana. Mimpinya cuma satu: Lulus dengan tenang dari Universitas Persada Nusantara.
Tapi ketenangan itu mahal harganya saat dia berurusan dengan Ragan Dirgantara.
Pewaris tunggal, arogan, dan terbiasa melihat semua orang menunduk padanya. Bagi Ragan, masalah apa pun bisa selesai dengan lembaran uang merah.
Sampai dia bertemu Kinan. Gadis yang menatap matanya dengan berani dan menolak uang damainya mentah-mentah.
"Sepatu kamu mungkin mahal. Tapi tata krama kamu? Nol besar."
Ini bukan kisah Cinderella yang menunggu diselamatkan pangeran. Ini kisah perang harga diri antara gadis yang tak punya apa-apa selain nyali, melawan cowok yang punya segalanya kecuali hati.
⚠️ Author's Note:
jujur, cerita ini plotnya emang pasaran dan agak klise ala-ala badboy badboy gitu. murni ditulis karena kegabutan kuliah yang hakiki. jadi, jangan harap plot berat yang bikin mikir keras ya! ini bacaan ringan buat seru-seruan aja.
(P.S: dijamin bikin baper, soalnya authornya pas nulis ini juga sambil senyum-senyum sendiri wkwk).