Historification
4 stories
MAHACINTABRATA SUKMA WICARA by Hardjasasmita
Hardjasasmita
  • WpView
    Reads 35,691
  • WpVote
    Votes 2,304
  • WpPart
    Parts 19
"Mahacintabrata" adalah serial novel modern bagi penyuka wayang atau siapa pun yang ingin tahu tentang seni warisan budayawan Indonesia ini. Kisah pewayangan akan diceritakan dengan bahasa yang sangat menarik dan mudah dicerna, sehingga membuat pembaca ketagihan dan penasaran akan cerita selanjutnya tanpa takut terjebak pada plot yang membosankan seperti membaca buku sejarah. Sebenarnya cerita wayang seperti Mahabharata dan Ramayana itu sangat keren, namun karena banyak penulisan kisahnya masih tradisional sehingga membingungkan pembaca yang kurang mengerti jalan cerita atau latar belakang kejadian. Di dalam "Mahacintabrata", penulisan kisah pewayangan dikembangkan ke dunia penulisan roman dan drama modern agar lebih mudah disukai. Mahacintabrata Sukma Wicara adalah sebuah novel roman & drama modern kisah pewayangan yang berlatar kisah Mahabharata tentang para tokoh leluhur Pandawa, seperti Bisma, Setyawati, Pandu, Kunti, dll. Dan sebagai gebrakan awal tokoh yang diangkat dalam "Mahacintabrata" adalah seseorang paling sentral sepanjang kisah Mahabharata dari awal sampai akhir peperangan besar Bharatayudha. Seorang tokoh yang membangun keturunan Bharata, mengasuhnya, menjaganya, membesarkannya, mendidiknya, melindunginya, hingga memperjuangkan dan membelanya sampai titik darah penghabisan. Dan bahkan demi kecintaan dan rasa sayangnya dia bersumpah tidak akan mencintai siapa pun untuk dirinya sendiri demi mencegah kemungkinan keturunannya merebut hak keturunan Bharata! Dialah Resi Bisma Dewabrata, kakek dari Pandawa dan Kurawa. Bisma Dewabrata, panglima Hastina yang sakti ini bersumpah tidak akan mencintai seseorang sepanjang hidupnya. Muncul seorang putri, Amba yang bisa menggoyah keteguhannya. Permasalahan tahta Hastina berlanjut saat tiga pangeran keponakan Bisma, yaitu Dasarata yang bermata buta, Pandu yang cacat dan Widura yang pincang, harus berebut cinta antara tiga orang putri, yaitu Kunti, Madrim dan Gandari.
Ashabul Kahfi by YafiShafwan
YafiShafwan
  • WpView
    Reads 37,609
  • WpVote
    Votes 2,705
  • WpPart
    Parts 12
Kisah 7 orang pemuda yg tidur di dalam gua selama 309 tahun, lalu di hidupkan/dibangkitkan kembali
Kembang Kawisari by JohanesJonaz
JohanesJonaz
  • WpView
    Reads 62,474
  • WpVote
    Votes 1,104
  • WpPart
    Parts 5
Kebun Kopi yang hijau menyimpan bermacam-macam cerita. Di sebuah lembah di kaki Gunung Kawi, ada sebuah perkebunan berhektar-hektar luasnya. Tidak ada yang tahu, di sana ada seorang perempuan yang tengah bergulat dengan hidup, di balik suburnya kebun dan harumnya kopi. Nama perempuan itu Trimasih, Sang Kembang Kawisari. Paras yang cantik tidak menjamin kehidupan yang lebih baik, justru satu-persatu masalah itu menghampiri. Permusuhannya dengan pemilik perkebunan adalah puncak dari misteri masa lalunya. Nyai Menur, perempuan Belanda itu menyimpan dendam yang luar biasa pada keturunan Jibah, nenek Trimasih yang sudah melakukan dosa padanya.
Semaoen - Hikayat Kadiroen (1920) by GeraniumNegra
GeraniumNegra
  • WpView
    Reads 128,268
  • WpVote
    Votes 6,169
  • WpPart
    Parts 8
Jalan hidup Kadiroen, pejabat lokal di pemerintahan Hindia Belanda, berubah setelah dia mendengar pidato Tjitro, seorang tokoh Partai Komunis. Tjitro bicara tentang kapitalisme, perlunya berserikat, serta komunisme. Idealisme Kadiroen sejalan dengan konsep Partai Komunis. Dia pun bersimpati dan mendukung partai itu secara diam-diam. Dia melepas kariernya di pemerintahan kolonial dan menjadi penulis pada Sinar Ra'jat, harian Partai Komunis, bahkan pernah terkena pasal delik pers (persdelict). Novel yang ditulis Semaoen ketika dirinya di penjara pada 1919 ini menunjukkan sosok Kadiroen sebagai borjuis yang menjadi pahlawan karena berupaya memakmurkan kaum tertindas. Selain itu novel ini juga menyelipkan cerita cinta Kadiroen dan Ardinah, istri seorang lurah yang terkena kawin paksa. Romansa mereka menjadi penutup seluruh kisah. --------------------- Sebuah novel klasik pra-Indonesia yang kira-kira ditulis sebelum era Balai Pustaka. Diambil dari Marxist.org, diunggah kesini untuk tujuan pendidikan.