rstabunny
- Reads 22,086
- Votes 2,807
- Parts 34
[on going]
Bagi Carmen, korea bukan sekadar negera maju dengan lampu neon yang gemerlap melainkan labirin dingin yang membuatnya merasa kerdil. Sebagai anak rantau yang hanya berbekal keberanian dan mimpi, ia terbiasa menelan tangisnya sendiri di balik dinding sempit. Tidak ada pelukan ibu, tidak ada pundak ayah. Hanya ada gema ambisi yang perlahan mulai memudar.
Sampai suatu malam di sebuah studio latihan yang hampir gelap, ia bertemu dengan seseorang. Sosok yang dipuja jutaan orang, namun ternyata memiliki kesepian yang sama besarnya. Di antara tekanan industri dan ekspektasi dunia, keduanya menemukan satu hal yang selama ini hilang: sebuah rumah yang tidak berupa bangunan, melainkan ruang untuk saling mendengarkan tanpa perlu banyak bicara.
Bukan janji manis atau harta, ia hanya memberikan satu hal yang tak pernah Carmen miliki di tanah rantau yaitu sebuah ruang untuk menjadi rapuh.
"Deg-degan?" suara pelan tiba-tiba muncul dari samping.
"Oh- iya... sedikit,"
"Pertama kali year-end show emang gitu."
"Kok tau?"
"Kamu kelihatan ngafalin blocking di udara dari tadi," katanya, nadanya ringan, nggak mengejek.