oleoown
- قراءات 145
- تصويتات 38
- فصول 9
Mattheo Galandra Abraham dikenal sebagai lelaki dingin, rasional, dan skeptis terhadap hal-hal di luar nalar. Namun, di balik sikap tenangnya, ia menyimpan sebuah obsesi sunyi yang menggerogoti kewarasannya. Setiap kali ia menikmati hal-hal yang ia sukai-mulai dari menyesap kopi hitam di senja hari, mendengarkan musik jazz, hingga merenung di balkon apartemennya-selalu muncul satu nama dan satu pertanyaan yang sama di kepalanya: "Apakah kau juga senang melakukan hal serupa dengan apa yang kulakukan, Nona Ryve?"
Ironisnya, Mattheo tidak tahu apa-apa tentang perempuan itu. Ia tidak tahu wajahnya, tempat tinggalnya, atau bahkan di belahan dunia mana perempuan itu berada. Ryve hanyalah sebuah entitas asing yang hidup di dalam tempurung kepalanya.
Di sisi lain, Ryve ternyata merasakan hal yang sama. Tanpa saling kenal, perempuan itu kerap menemukan jejak-jejak tulisan tangan dan kalimat-kalimat yang ditinggalkan Mattheo di berbagai tempat umum. Keduanya terjebak dalam frekuensi rindu yang sama, saling mencari dalam ketidaktahuan yang menyesakkan.
Hingga takdir akhirnya mempertemukan mereka secara tidak sengaja di sebuah pameran seni kontemporer. Di sanalah teka-tekian terjawab, membuktikan bahwa rindu paling tulus terkadang menemukan jalannya sendiri, mengubah bayangan di kepala menjadi pelabuhan terindah yang nyata.