arifatulaikiyowo1611
Bagi dr. Chimon, pengabdian di pedalaman Papua adalah caranya membuktikan bahwa ia bukan sekadar "dokter kota" yang manja. Namun, idealismenya langsung diuji oleh realitas medan yang berat dan prosedur keamanan ketat yang dipimpin oleh Lettu Sing, seorang komandan satuan tugas yang dikenal kaku dan tanpa kompromi.
Pertemuan pertama mereka di sebuah puskesmas darurat berakhir dengan perdebatan sengit. Chimon menganggap Sing terlalu membatasi ruang geraknya demi alasan keamanan, sementara Sing menilai Chimon keras kepala dan bisa membahayakan nyawa tim medis jika tidak menurut pada protokol militer. Bagi Chimon, Sing adalah pria dingin yang hanya tahu soal senjata; bagi Sing, Chimon adalah beban yang penuh emosi.
Namun, di balik adu mulut yang rutin terjadi setiap pagi, mereka dipaksa bekerja sama dalam berbagai situasi genting mulai dari menangani wabah di desa terpencil hingga evakuasi medis di tengah hutan saat cuaca buruk. Di bawah langit Papua yang luas dan sunyi, kekesalan itu perlahan terkikis.
Chimon mulai melihat sisi rapuh Sing di balik seragam lorengnya, sementara Sing mulai mengagumi ketangguhan Kinara yang tetap bertahan meski fasilitas terbatas. Di sela-sela dentuman konflik dan sunyinya malam di barak, mereka menyadari bahwa rasa kesal yang selama ini mereka pelihara hanyalah cara untuk menutupi rasa takut kehilangan satu sama lain.
Di pelabuhan terakhir inilah, mereka menemukan bahwa rumah bukan lagi sebuah tempat di peta, melainkan seseorang yang berdiri di sisi mereka saat dunia sedang tidak baik-baik saja.