vee_kaelin
- Reads 1,329
- Votes 218
- Parts 19
Di usia dua puluh satu tahun, Thanwa Rattanapong harus menjalani sesuatu yang tak pernah dibayangkannya: menikah dengan pria seusia ayahnya sendiri.
Pernikahan itu bukan karena cinta, apalagi keinginan. Melainkan perjanjian keluarga yang terasa seperti kutukan.
Suaminya, Phayak Sirivan, adalah pria dewasa yang tampak terlalu tenang dan terlalu sabar untuk dunia keras yang dipenuhi emosi muda seperti dirinya.
Thanwa memberontak, menolak, bahkan berusaha kabur dari ikatan yang ia anggap penjara. Tapi Phayak tidak melawan. Ia hanya diam-dan menunggu.
Menunggu luka di hati Thanwa sembuh. Menunggu amarahnya reda. Menunggu hati muda itu mengerti bahwa kasih sayang bisa datang tanpa suara.
Dalam keseharian yang dipenuhi diam, pertengkaran kecil, teh panas setiap pagi, dan perhatian yang tak diminta, perlahan Thanwa belajar...
Bahwa tidak semua cinta datang dengan dentuman keras.
Kadang, cinta justru datang sebagai pelukan paling tenang dari orang yang paling tak terduga.