Punyaku (o^^)o[ END ]
4 stories
Dari Niskala by Cloudlhy
Cloudlhy
  • WpView
    Reads 1,223
  • WpVote
    Votes 362
  • WpPart
    Parts 12
Dari gelap tengah malam menjelma pintu rumah terketuk-ketuk. Sebalik jubah melingkupi wajah, membawa yang ada menjadi tiada, bahkan tiada menjadi ada. Saat ditanya ada apa gerangan kedatangannya? Dia tersenyum memperkenalkan nama "Niskala," ucapnya. "Datang karena keinginan, nona." Namun hidup Nala yang awalnya biasa saja, jungkir balik dibuatnya. Nala tak lagi bisa membedakan segalanya.
Desir Arah by Cloudlhy
Cloudlhy
  • WpView
    Reads 10,525
  • WpVote
    Votes 2,471
  • WpPart
    Parts 36
Jauh sebelum lintang bintang memudar Dia pernah berpikir ke arah mana kaki melangkah Dengan rasa lelah memuncah Tertatih-tatih kehilangan arah Lalu suatu ketika dipenutup oranye cerah Tangannya mengepal menemukan rumah Yang tak pernah menjadi pernah Dan dia merengkuh kesah Pelangi pernah bilang bahwa dia manusia paling pelupa mengenai jalan pulang, sedangkan Haysel pernah bilang bahwa ia hanya anak cowok yang tidak punya jalan pulang. Dari sebalik ruang gelap kamar sunyi milik Russel, cowok itu bergumam sendu. Ia bingung, bagaimana caranya mengumpulkan keberanian untuk pulang? "Belum pulang?" "Sebentar lagi," jawabnya merengkah senyum cerah.
Surat Untuk Januari by Cloudlhy
Cloudlhy
  • WpView
    Reads 174,021
  • WpVote
    Votes 35,920
  • WpPart
    Parts 35
Selayaknya segaris lintang jingga dalam biru senja. Atau selayaknya seutuh hangat menyelimuti setiap manusia ditemuinya. Wajahnya terangkat menampilkan senyum tanpa seraut luka. Namanya Ciera Pelita. Seharusnya surat dalam kotak ungu itu dikirim pada awal bulan Januari sebelum memenuhi opsi terakhir wishlistnya. Bunuh diri. Tapi Ciera menghilang pergi sebelum kotak itu terkirim, bahkan pada bulan Desember yang belum kunjung usai. Namun mengapa? Mengapa seorang Ciera Pelita? "Mau permen?"
Hello, En! by Cloudlhy
Cloudlhy
  • WpView
    Reads 195
  • WpVote
    Votes 41
  • WpPart
    Parts 1
Ami, temanku mendapat memo di bawah meja setiap harinya dan membuatku terlibat sebagai tukang narasi cerita mereka. "Hello, En!"