Syahdan100626
Di awal era Masehi, di tanah Jawa yang masih belum memiliki kerajaan besar kecuali Galuh Murangkalih, sebuah kerajaan yang berada di bawah bayang-bayang konflik internal dan rahasia tersembunyi, kisah ini bermula. Galuh Murangkalih, dipimpin oleh Raja Pangestu Wineka Warman, merupakan kerajaan yang terpecah menjadi tiga wilayah kecil, masing-masing dikuasai oleh adipati yang setia pada sang raja. Namun di balik kedamaian yang tampak, api kecemburuan dan ambisi tersembunyi semakin membara.
Dewi Inten Keusik, seorang selir dengan latar belakang misterius dan ambisi besar, merasa tersisih dan cemburu pada Dewi Panangan, istri pertama raja yang jauh lebih lembut dan taat pada ajaran agama. Dengan licik, Dewi Inten Keusik mencoba menipu dan merencanakan agar anaknya bisa menjadi pewaris takhta kerajaan, meski sang raja tidak pernah merasuki hubungan mereka.
Raja Pangestu Wineka Warman, terjebak dalam dilema, akhirnya menerima takdirnya dan berpura-pura menerima anak dari selirnya sebagai putranya. Namun, di balik keputusan itu, ia mulai merasakan ada yang tak beres dalam diri Dewi Inten Keusik. Kecurigaan semakin dalam saat ia mengetahui bahwa selirnya ternyata pernah berguru ilmu silat pada seorang tokoh aliran sesat, yang membuat Raja khawatir akan masa depan kerajaannya.
Di puncak Gunung Halimun yang sepi, seorang pertapa yang pernah menjadi pendekar rimba persilatan, menanti suatu pertemuan yang tak terduga. Sebuah perjalanan batin dan konflik kekuasaan yang akan mengguncang kerajaan Galuh Murangkalih, membawa pengungkapan dan pertarungan antara ambisi, kasih sayang, dan pengorbanan.
Ini adalah kisah tentang kekuasaan, ambisi, dan pilihan yang menguji kesetiaan, di mana tak hanya darah yang mengikat, namun juga takdir yang berputar seperti kabut di puncak gunung, dan apa yang selanjutnya yang terjadi?Nantikan dan terus ikuti cerita inidan terimakasih untuk yang sudah membaca.