bintarobastard
- Reads 990
- Votes 43
- Parts 12
Setelah bertahun-tahun bekerja sebagai staf rumah tangga kepresidenan, Senja kembali ke kampung halamannya di Magelang. Tak ada alasan besar. Tak ada pengumuman. Ia hanya ingin menziarahi makam kedua orang tuanya, menata bunga, membersihkan nisan, dan memberi waktu pada dirinya sendiri untuk diam.
Magelang menyambutnya tanpa kejutan. Rumah lamanya masih berdiri di timur alun-alun, dengan pintu kayu yang berderit dan debu yang mengendap seperti waktu yang tak pernah benar-benar berjalan. Di kamar tidurnya yang sempit dan sunyi, Senja menemukan sebuah kotak sepatu tua di bawah ranjang-dan di dalamnya, selembar surat.
Surat yang pernah ia tulis, bertahun-tahun lalu, kepada seseorang yang pernah mengguncang hatinya dalam diam: Kilat Kidung Swargaloka, teman masa seminari yang membuatnya meragukan banyak hal, termasuk dirinya sendiri. Mereka tidak pernah saling mengucap. Tidak pernah saling bersentuhan lebih dari kata-kata di kelas atau bisikan doa malam. Tapi dalam surat itu, Senja sempat menulis apa yang tak pernah berani ia ucapkan.
Kini, membaca ulang tulisan tangannya sendiri, Senja tak mencari pengampunan atau penjelasan. Ia hanya mencoba memahami kenapa hal-hal kecil yang tertinggal bisa terasa lebih tajam dari kehilangan itu sendiri.
"Nyekar" bukan kisah tentang pertemuan. Bukan tentang cinta yang sempat mekar dan layu. Tapi tentang keberanian untuk kembali, untuk mengingat, dan untuk meletakkan sesuatu yang lama tertahan di tempat yang lebih tenang. Ini adalah perjalanan pulang yang tanpa peta, hanya didorong oleh perasaan bahwa sesuatu di masa lalu belum selesai-dan barangkali tak harus diselesaikan, cukup diterima.