dumpdiary_
- Reads 388
- Votes 120
- Parts 21
Ada satu aturan tertulis yang sangat diagungkan oleh seorang Januari Mahendra di kantor ini, yaitu bersikap profesional dan jangan pernah melibatkan perasaan dengan rekan kerja.
~ Satu tahun penuh aku mengaguminya dalam diam dari balik kubikel kerja, menganggap aturan itu sebagai pembatas suci yang tidak akan pernah bisa kutembus. Namun, ego mengalahkanku. Empat bulan terakhir, aku nekat meruntuhkan harga diriku demi mengetuk pintu hatinya yang beku. Hingga malam itu tiba. Di bawah temaram lampu selasar kantor yang mulai sepi, dia menatapku datar, lalu mengucapkan kalimat penolakan paling tenang yang pernah kudengar seumur hidupku.
Malam itu, perjuanganku resmi patah. Aku berbalik arah dengan sisa-sisa hati yang hancur, lalu berjanji pada diriku sendiri untuk membangun benteng pertahananku sendiri. Sebuah benteng yang tinggi, kokoh, dan tidak akan pernah kubiarkan ditembus oleh siapa pun lagi. Terutama dia. Januari Mahendra.
Aku tidak pernah tahu, bahwa beberapa bulan setelah malam itu, takdir justru memaksa seorang Januari Mahendra untuk berdiri di depan bentengku. Berdiri sebagai seseorang yang memohon, siap meruntuhkan seluruh harga diri dan prinsip yang dulu mati-matian dia bela.