2EZ4HVK
Arka terdiam. Sebagai mantan peselancar yang kehilangan kakinya akibat kecelakaan, ia terbiasa dengan kehilangan. Namun, gadis yang ia temukan di tepi tebing karang Selatan Jawa ini membawa jenis kehilangan yang berbeda.
Awalnya, Arka mengira Kinara ingin menyerah. Ternyata, gadis itu hanya ingin mendengar "bisikan ombak" dari ketinggian. Kinara, dengan tubuh yang perlahan digerogoti penyakit, justru menjadi cahaya bagi Arka yang keras bagai karang. Ia mengajari Arka melihat dunia lewat sudut pandang lain: dari sarang burung layang-layang hingga desir daun kelapa yang terdengar seperti tepuk tangan untuk matahari terbenam.
"Kau seperti Elang Bondol," ujar Kinara. "Kakimu patah, tapi jiwamu masih milik angkasa." "Dan kau," balas Arka parau, "kau seperti Kunang-kunang. Cahayamu kecil dan singkat, tapi di gelap gulita, kaulah yang paling diingat."
Musim berganti, dan cahaya si kunang-kunang akhirnya padam. Namun, ia pergi setelah melihat elang itu kembali mengepakkan sayap.
Bertahun-tahun kemudian, di podium tertinggi Arena Paralimpik, Arka berdiri dengan medali emas di lehernya. Di tengah riuh tepuk tangan, wajah Kinara muncul di pelupuk matanya-senyum yang abadi seperti bisikan ombak.
Saat mikrofon disodorkan, Arka hanya berkata: "Aku tidak sedih. Aku hanya berpikir... di saat seperti ini, andai kau bisa melihat, pasti lebih baik."
Sebab bagi sang Elang, kunang-kunang itu hanya hinggap semalam di sayapnya. Namun, cahayanya adalah keindahan paling singkat sekaligus paling abadi yang pernah ia miliki.