SERIOUS WORK
5 stories
​Si Kucing Tak Bicara, Hanya Mencintaimu Tiada Tara by 2EZ4HVK
2EZ4HVK
  • WpView
    Reads 103
  • WpVote
    Votes 91
  • WpPart
    Parts 19
Ini adalah sebuah buku harian penuh bulu, berisi 18 puisi ringan dari sudut pandang si kucing lucu, tentang rahasia-rahasia kecil yang tak kau tahu: ​Bola benang yang disembunyikan di bawah ranjang, ​rebahan sembarangan setelah sofa kau biarkan koyak memanjang, kedipan mata (wink) sebagai sandi cinta yang terlarang, hingga menjaga sandalmu sampai kau kembali pulang. ​Setiap baitnya adalah cara si "Kucing Filsuf" bercerita, tentang betapa canggungnya manusia saat jatuh cinta. Meski ia tak bicara, hatinya selalu punya cara, untuk bilang bahwa kamulah semesta yang ia punya.
Tubuhku Berpulang ke Siapa? by 2EZ4HVK
2EZ4HVK
  • WpView
    Reads 28
  • WpVote
    Votes 14
  • WpPart
    Parts 6
Setetes embun pagi di ujung daun, bernama harapan. Embun itu kupetik dengan gemulai saat garis dua di alat tes kehamilan. Dulu, kusangka tubuh ini peta, kugenggam kompasnya. Kini, setelah rahim menjalankan tugas akhirnya, peta itu terbakar. Kompas itu pecah. ASI? Bukan susu kehidupan. Ia adalah sungai yang memaksa, meluap di bendungan yang nyaris retak. Mastitis adalah letusan gunung di dataran payudara. Jahitan di selangkangan bukan tanda keberanian, ia adalah garis batas nyata: di sini aku sebagai manusia berakhir, di sana aku sebagai mesin dimulai. Ibu pergi, membawa separuh napas dunia yang kupahami. Suami? Ah, dia sibuk menyelam di lautan rutinitas lama, lupa bahwa istrinya tengah tersangkut di antara karang-karang jadwal menyusu dan tangisan tanpa kamus. Aku, yang dulu bisa menaklukkan rapat-rapat dengan presentasi setajam pedang, kini kalah telak oleh bocah mungil yang tangisannya lebih dahsyat dari semua tenggat waktu. Hidup bukan lagi tentang target dan strategi. Hidup adalah tentang tumpukan popok, bau asam susu basi, dan bayangan diri sendiri di kaca yang semakin kabur. Ini bukan kisah cinta melankolis. Ini catatan perang. Perang seorang perempuan untuk merebut kembali tubuhnya, suaranya, dan takdirnya, dari segala label yang mereka sematkan. Perang paling gerilya, di medan bernama: rumah tangga. Tunggu. Sebelum kau menilai, mari kita berhitung: berapa harga yang harus dibayar untuk sebuah kata "Ibu"?
Mereka yang Dijemput Maut Lebih Dulu by 2EZ4HVK
2EZ4HVK
  • WpView
    Reads 2
  • WpVote
    Votes 11
  • WpPart
    Parts 11
Dalam antrean kematian, waktu berjalan mundur. Dan di sel-sel yang lembap itu, kami menyaksikan tujuh kisah tentang bagaimana hidup berjalan salah. Mereka bukan lagi nama. Mereka adalah nomor punggung, gema langkah di lorong malam, dan bayangan yang menunggu giliran di ujung senapan. Seorang profesor jenius yang tangannya terampil membedah mayat dan nyawa. Seorang bocah 18 tahun yang mengubah empat nyawa menjadi abu. Seorang ratu narkoba yang hanyut dalam gelombang uang dan darah. Satu keluarga utuh, terikat bukan oleh ikatan kasih, tapi oleh vonis yang sama. Kami, tiga mantan penghuni, merekam jejak mereka. Mengais fragmen ingatan untuk menjawab pertanyaan yang sama: Di titik mana seseorang mulai berjalan menuju tiang gantungannya sendiri? Ini bukan cerita untuk membenarkan dosa. Ini adalah potret tentang nafas terakhir, penyesalan yang datang terlalu larut, dan pertanyaan yang tersisa untuk kita yang masih "dijemput lebih kemudian". Bacalah. Lalu, berhati-hatilah melangkah.
PINANG PUSTAKA by 2EZ4HVK
2EZ4HVK
  • WpView
    Reads 48
  • WpVote
    Votes 6
  • WpPart
    Parts 6
Kisah ini mengandung tema: Kematian karakter pendukung, tekanan psikologis yang kuat, satir sistem politik/birokrasi, dan gambaran realistis tentang perjuangan hidup. Disarankan untuk pembaca remaja akhir dan dewasa. Sebuah perintah. Sebiji pinang. Sebuah pengabdian yang dibayar tunai dengan nyawa. Seberapa jauh kau akan melangkah untuk sebuah titah yang tak pernah kau pertanyakan?
LANGIT YANG RUNTUH DI PELUPUK MATANYA by 2EZ4HVK
2EZ4HVK
  • WpView
    Reads 72
  • WpVote
    Votes 20
  • WpPart
    Parts 19
Arka terdiam. Sebagai mantan peselancar yang kehilangan kakinya akibat kecelakaan, ia terbiasa dengan kehilangan. Namun, gadis yang ia temukan di tepi tebing karang Selatan Jawa ini membawa jenis kehilangan yang berbeda. Awalnya, Arka mengira Kinara ingin menyerah. Ternyata, gadis itu hanya ingin mendengar "bisikan ombak" dari ketinggian. Kinara, dengan tubuh yang perlahan digerogoti penyakit, justru menjadi cahaya bagi Arka yang keras bagai karang. Ia mengajari Arka melihat dunia lewat sudut pandang lain: dari sarang burung layang-layang hingga desir daun kelapa yang terdengar seperti tepuk tangan untuk matahari terbenam. "Kau seperti Elang Bondol," ujar Kinara. "Kakimu patah, tapi jiwamu masih milik angkasa." "Dan kau," balas Arka parau, "kau seperti Kunang-kunang. Cahayamu kecil dan singkat, tapi di gelap gulita, kaulah yang paling diingat." Musim berganti, dan cahaya si kunang-kunang akhirnya padam. Namun, ia pergi setelah melihat elang itu kembali mengepakkan sayap. Bertahun-tahun kemudian, di podium tertinggi Arena Paralimpik, Arka berdiri dengan medali emas di lehernya. Di tengah riuh tepuk tangan, wajah Kinara muncul di pelupuk matanya-senyum yang abadi seperti bisikan ombak. Saat mikrofon disodorkan, Arka hanya berkata: "Aku tidak sedih. Aku hanya berpikir... di saat seperti ini, andai kau bisa melihat, pasti lebih baik." Sebab bagi sang Elang, kunang-kunang itu hanya hinggap semalam di sayapnya. Namun, cahayanya adalah keindahan paling singkat sekaligus paling abadi yang pernah ia miliki.