kangcilung_
- Reads 298
- Votes 92
- Parts 51
"Sejauh apa pun aku melangkah, aku selalu menemukan diriku terhenti di garis yang sama: batas antara masjid, gereja, dan kamu"
Alana Naura Shasmeen adalah definisi kemandirian yang dibalut dalam estetika. Sebagai mahasiswi PWK yang sedang menjalani penelitian, dunianya hanya berputar pada akurasi data QGIS dan rencana pembangunan desa. Baginya, segala sesuatu harus memiliki jalur yang jelas sampai ia bertemu dengan Raka Arkananta.
Raka adalah Kapten Damkar yang kaku, cuek, dan selalu terlihat menjaga jarak dari siapa pun yang baru ia kenal. Namun, di balik seragam dinasnya yang tegas, Raka menyimpan kelembutan yang hanya ia tunjukkan lewat perhatian-perhatian kecil yang tak terucap. Ia adalah sosok yang diam-diam memastikan Naura tetap aman, meski ia sendiri masih dihantui api masa lalu yang gagal ia padamkan.
Naura yang ceria dan penuh semangat sosial mulai meluluhkan tembok es Raka. Namun, semakin dekat koordinat mereka bersinggungan, semakin nyata tembok besar yang memisahkan mereka: Amin yang tak pernah bisa bersatu. Naura yang menengadah, dan Raka yang menggenggam salibnya.
Di bawah langit senja yang pudar, mereka sadar bahwa cinta mereka adalah anomali dalam perencanaan semesta. Saat tugas memanggil dan sirene mulai meraung, Naura harus menghadapi kenyataan pahit: Jika titik api bisa Raka padamkan dan titik koordinat bisa Naura dapatkan, lalu bagaimanakah dengan titik pertemuan mereka yang tak pernah direstui langit?