tulisanmaufii
Bagi kebanyakan orang, jatuh cinta pada Arka hanyalah perkara wajah dan kecerdasan. Namun bagi Alea, cinta berarti menemukan sosok rumah ternyaman untuk tempat pulang.
"Kamu bukan rusak, Alea," bisik Tante Siska suatu sore, sambil menyisir rambut Alea dengan jemari yang lebih lembut daripada tangan ibu kandungnya. "Kamu hanyalah bunga yang tumbuh di tanah yang salah. Biarkan kami menjadi tanahmu."
Kalimat itu menjadi obat sekaligus racun. Untuk pertama kalinya Alea percaya bahwa dirinya layak dicintai. Ia mulai belajar berdamai dengan masa lalu bukan karena pelakunya berubah, melainkan karena ia telah menemukan pelabuhan baru.
Namun, tepat saat Alea menaruh seluruh koper luka di rumah itu, Arka membakar jembatan di belakangnya. Tanpa pertengkaran, tanpa orang ketiga hanya satu pesan singkat di layar ponsel, terasa seperti di vonis mati.
"Al, jangan pernah datang ke rumahku lagi. Jangan temui Papa dan Mama lagi. Kita selesai. Aku nggak butuh penjelasan apa pun."
Alea hancur. Tapi ada satu hal yang tak pernah Arka perhitungkan. Seminggu setelah putus, ponsel Alea bergetar bukan dari Arka, melainkan dari Tante Siska.
"Tante sudah masak ayam betutu kesukaanmu. Arka bilang kamu sibuk, tapi Tante tahu kamu tidak mungkin melupakan jalan pulang, kan?"
Kini Alea terjebak dalam teka‑teki yang menyesakkan: Arka mengusirnya dengan kebencian yang tak beralasan, sementara orang tua Arka merengkuhnya kembali dengan kasih sayang yang tak bisa ia tolak.
Apa yang sebenarnya disembunyikan Arka? Dan seberapa jauh Alea boleh bertahan di sebuah rumah ketika kunci pintunya telah dibuang oleh pemilik aslinya?