NonaLebah
- Reads 159,972
- Votes 6,162
- Parts 41
"Lepas, Mas! Aku bisa aduin ini ke Juna!" teriak Avaya, suaranya gemetar ketakutan, tapi terdengar teredam, seperti terperangkap dalam kotak.
Arya hanya terkekeh dingin. Dengan gerakan kasar, dia meraih ujung kaos hitamnya dan menariknya lewat atas kepala. Tubuhnya terpampang jelas: bidang, berotot, dengan beberapa tato yang terlihat di lengan dan dadanya. Sebuah tubuh yang kontras dengan jiwa penyanyinya.
"Terus Juna bisa apa?" ejeknya sinis, sambil melangkah mendekat.
Avaya berusaha lari ke pintu, mencoba memutar kenopnya dengan liar. Tapi terkunci. Dia memukul-mukul pintu yang berat itu. "Tolong! Tolong!" teriaknya, panik, tapi suaranya hanya bergema lemah di dalam ruangan kedap suara itu.
Arya sudah berdiri di belakangnya. Dengan mudahnya, dia memutar tubuh Avaya yang ringkih dan mendorongnya hingga terjatuh ke atas kasur. Rok Avaya tersingkap, memperlihatkan lebih banyak paha yang mulus.
Avaya mencoba bangun, tapi Arya sudah menahan tubuhnya. Wajah Arya mendekat, matanya gelap dan penuh niat jahat.
"Mau apa kamu, Mas? Aku bakal teriak!" ancam Avaya, suaranya parau ketakutan.
"Teriak aja," bisik Arya, napasnya sudah dekat di telinga Avaya. "Nggak akan ada yang denger. Apa lagi perduli."
Sebelum Avaya bisa berteriak atau melawan lebih jauh, Arya sudah menangkis tangan yang melawan, menahan tubuhnya dengan kuat, dan menutup mulut Avaya dengan tangannya yang kasar. Wajahnya mendekat, dan dia mencium Avaya dengan paksa, sebuah ciuman yang keras, penuh kuasa dan amarah, bukan penuh kasih. Sebuah pelampiasan dari segala kekecewaan dan rasa sakit yang selama ini ia pendam.
Dengan gerakan kasar dan penuh kuasa, tangan Arya yang besar mencengkeram kerah blus Avaya. Kain itu meregang sebelum akhirnya terkoyak. Suara kancing-kancing kecil yang berhamburan ke lantai