just_syala
- Reads 3,406
- Votes 992
- Parts 13
"Je, kamu tau lambang arus listrik, induktansi, oksigen, tegangan listrik, elektron, sama uranium, nggak?" tanya Fandra.
"Hm, tau. Arus listrik, I. Oksigen, O. Tegangan listrik, V. Elektron, e. Uranium, U. Induktansi aku lupa, he-he," sahut Jeina. Mengingat-ingat yang ia lewatkan dalam memberikan jawaban.
"Coba search di internet."
"Oh ... induktansi, L."
"Tulisin di buku, dong."
Jeina membuka bukunya, kemudian menulis acak sesuai yang ia ingat, sehingga Fandra menegurnya dan menyuruhnya menulis ulang sesuai dengan yang ia sebutkan. Fandra pula menyuruhnya menulis berbaris ke bawah. Jeina berdecak, memprotes. Kemudian, Fandra memerintahkan lagi agar Jeina melingkari masing-masing lambang dari baris atas hingga bawah.
"I, L, O, V, e, U?" tanya Jeina.
"I love you more, Je."
ββ ββ
ββ
β ββ
"Kita berjalan dalam langkah yang sama, tapi bayangannya tak juga menjadi kisah yang bermakna."
Coretan kisah yang tak pernah pergi dan mendekat sepenuhnya pun tak berani. Jeina dan Fandra bukan pasangan, tapi saling tahu rasa yang tumbuh, walau tak benar-benar menyebutnya cinta yang utuh. Di antara setiap candaan, tatapan yang tertahan, mereka berjalan berdampingan, berharap waktu datang membawa jawaban. Keduanya terjebak dalam permainan hati yang rumit. Fandra mengikat hubungan mereka dalam satu nama-'temen level 5'.
Namun, perlahan keraguan membangun tembok yang tinggi; Jeina berdiri di ambang lelah menunggu yang tak pasti, sementara Fandra berpegang pada sebutan yang ia cipta sendiri. Akankah status 'temen level 5' akan selamanya menjadi ruang tanpa kejelasan? Atau justru membuka pintu menuju sesuatu yang lebih di halaman depan?
ββ ββ
ββ
β ββ
Disclaimer: Pertama kali dipublikasikan di aplikasi Wattpad. Sudah tamat dan sudah diterbitkan menjadi buku cetak di Nebula Publisher dengan cetakan pertama pada September 2025.
Seluruh kejadian dalam novel ini adalah fiktif. Apabila terdapat kesamaan, hal tersebut semata-mata merupakan kebetulan.