sflwrinn's Reading List
4 stories
𝑳𝒐𝒗𝒆, π‘³π’π’˜-π‘²π’†π’š by taniasasha
taniasasha
  • WpView
    Reads 1,914
  • WpVote
    Votes 889
  • WpPart
    Parts 15
Kancha menemukannya. Untuk yang pertama kali. Tatapan mereka terpaut. Tidak ada hal lain, hanya sebatas itu. Tanpa untaian kata tertinggal. Melupakan prinsip bahwa jatuh cinta adalah hal yang paling mengerikan. Kancha sadar, menyerahkan hati pada sosok Cello Lavoizer adalah bencana besar. Sejenak dia tertawa miris. Bahkan untuk saling berkenalan saja, ia tak pernah lakukan. Lantas, mengapa hasratnya berkeinginan lebih padahal mereka hanya sebatas dua insani minim interaksi? "He never love me back," gumamnya dengan wajah datar. Tapi, apakah benar begitu, Cello? | 𝐀 𝑳𝒐𝒗𝒆 𝐬𝐭𝐨𝐫𝐲 𝐰𝐫𝐒𝐭𝐭𝐞𝐧 𝐒𝐧 𝐞𝐲𝐞 𝐜𝐨𝐧𝐭𝐚𝐜𝐭 𝐚𝐧𝐝 𝐀𝐞𝐩𝐭 π‘³π’π’˜-π‘²π’†π’š Β©α΄›α΄€Ι΄Ιͺα΄€sα΄€sΚœα΄€ | ᴏᴄᴛᴏʙᴇʀ 5, 2023 F e b r u a r y 1st, 2 0 2 6
Before the Guillotine Rings by TattvaKatha
TattvaKatha
  • WpView
    Reads 247
  • WpVote
    Votes 101
  • WpPart
    Parts 8
Before The Guillotine Rings: Countdown to a Horrific End Seorang putri bangsawan tingkat tinggi pada akhir monarki Prancis berjalan menuju kematiannya tanpa perlawanan. Bukan karena ia tak bersalah, tetapi karena ia menyadari bahwa pembelaan sudah lama kehilangan makna. Ia tidak dieksekusi sebagai individu, melainkan sebagai simbol dari sistem yang runtuh. Guillotine bukan hukuman personal, melainkan penutup sejarah. Namun kematian tidak menjadi akhir. Ia terbangun kembali dalam tubuhnya yang masih kanak-kanak, bertahun-tahun sebelum Revolusi Prancis mencapai puncaknya. Awalnya ia mengira ini mimpi, sampai tubuhnya sendiri mengingat sesuatu yang seharusnya belum terjadi. Istana yang sama, wajah-wajah yang sama, dan ketakutan yang masih melekat pada para pelayan membuatnya sadar bahwa waktu telah mundur, tetapi sejarah belum berubah. Dengan ingatan akan akhir hidupnya, ia berusaha memahami kejahatan-kejahatan yang dulu membawanya ke penggal. Bukan satu dosa besar, melainkan rangkaian keputusan kecil: pembiaran, keheningan, simbolisme yang kejam, dan keyakinan bahwa darah bangsawan memberi kekebalan. Ia sadar bahwa kebaikan pribadi tidak cukup untuk membongkar sistem, dan bahwa setiap upaya perubahan justru berisiko mempercepat kehancurannya. Seiring waktu berjalan, tanda-tanda krisis kembali muncul. Kelaparan, pajak, propaganda, dan kebencian kelas bergerak seperti roda yang sulit dihentikan. Upayanya untuk mengubah arah sejarah membawanya pada dilema yang tidak bersih: menyelamatkan diri sendiri atau mempertaruhkan nyawanya demi perubahan kecil yang mungkin bahkan tidak tercatat. Cerita ini bukan tentang menjadi pahlawan. Ini tentang bernegosiasi dengan masa lalu yang tidak bisa dimaafkan, dan masa depan yang mungkin tetap menuntut kepala sebagai harga kestabilan. Ketika guillotine kembali membayangi, pertanyaannya bukan lagi apakah ia akan mati, tetapi apa arti hidup jika sejarah tetap memilih korban yang sama. #guillotine #villainess #aristoktat
Ruang tak Bernama by jierevv_
jierevv_
  • WpView
    Reads 63
  • WpVote
    Votes 27
  • WpPart
    Parts 5
Jika seseorang bertanya tentang arti kehidupan, mungkin setiap orang punya jawabannya masing-masing. Bagi Lembayung, hidup adalah tentang menerima dunia meski ia tak pernah benar-benar melihat warnanya. Tentang belajar tersenyum di tengah keterbatasan, dan tetap percaya kalau bahagia itu nyata. Sedang bagi Bhumi, hidup adalah tentang menyimpan banyak kata di dalam hati. Ia bisa mendengar segalanya, tapi tak bisa mengucapkannya. Maka ia memilih menulis, menjadikan kata-kata sebagai suaranya sendiri. Pertemuan mereka bukan tanpa alasan. Dua orang dengan kekurangan masing-masing, yang perlahan belajar saling menguatkan. Cerita ini mengisahkan tentang luka, harapan, tawa, dan air mata. Tentang menerima diri sendiri, juga tentang belajar mencintai tanpa syarat. Tak ada manusia yang sempurna, selain Tuhan. Lalu, akankah Lembayung dan Bhumi menemukan kebahagiaan yang mereka cari? Atau justru harus belajar melepaskan? Start: 30 Januari 2026 End:
Temen Level 5 by just_syala
just_syala
  • WpView
    Reads 3,406
  • WpVote
    Votes 992
  • WpPart
    Parts 13
"Je, kamu tau lambang arus listrik, induktansi, oksigen, tegangan listrik, elektron, sama uranium, nggak?" tanya Fandra. "Hm, tau. Arus listrik, I. Oksigen, O. Tegangan listrik, V. Elektron, e. Uranium, U. Induktansi aku lupa, he-he," sahut Jeina. Mengingat-ingat yang ia lewatkan dalam memberikan jawaban. "Coba search di internet." "Oh ... induktansi, L." "Tulisin di buku, dong." Jeina membuka bukunya, kemudian menulis acak sesuai yang ia ingat, sehingga Fandra menegurnya dan menyuruhnya menulis ulang sesuai dengan yang ia sebutkan. Fandra pula menyuruhnya menulis berbaris ke bawah. Jeina berdecak, memprotes. Kemudian, Fandra memerintahkan lagi agar Jeina melingkari masing-masing lambang dari baris atas hingga bawah. "I, L, O, V, e, U?" tanya Jeina. "I love you more, Je." ── β‹†β‹…β˜†β‹…β‹† ── "Kita berjalan dalam langkah yang sama, tapi bayangannya tak juga menjadi kisah yang bermakna." Coretan kisah yang tak pernah pergi dan mendekat sepenuhnya pun tak berani. Jeina dan Fandra bukan pasangan, tapi saling tahu rasa yang tumbuh, walau tak benar-benar menyebutnya cinta yang utuh. Di antara setiap candaan, tatapan yang tertahan, mereka berjalan berdampingan, berharap waktu datang membawa jawaban. Keduanya terjebak dalam permainan hati yang rumit. Fandra mengikat hubungan mereka dalam satu nama-'temen level 5'. Namun, perlahan keraguan membangun tembok yang tinggi; Jeina berdiri di ambang lelah menunggu yang tak pasti, sementara Fandra berpegang pada sebutan yang ia cipta sendiri. Akankah status 'temen level 5' akan selamanya menjadi ruang tanpa kejelasan? Atau justru membuka pintu menuju sesuatu yang lebih di halaman depan? ── β‹†β‹…β˜†β‹…β‹† ── Disclaimer: Pertama kali dipublikasikan di aplikasi Wattpad. Sudah tamat dan sudah diterbitkan menjadi buku cetak di Nebula Publisher dengan cetakan pertama pada September 2025. Seluruh kejadian dalam novel ini adalah fiktif. Apabila terdapat kesamaan, hal tersebut semata-mata merupakan kebetulan.