PRICENOIR
- Прочтений 27,269
- Голосов 48
- Частей 15
Orang bilang aku pria paling beruntung. Di usia tiga puluh tahun, aku mendapatkan istri yang cantik, muda, dan polos. Dewi Anggraini, gadis berusia dua puluh tahun yang manis, sopan, dan berasal dari keluarga terpandang. Siapa yang tidak mau? Hidup mapan, istri muda, rumah besar, dan mertua yang sangat baik.
Tapi mereka tidak tahu satu hal: Aku menikahi Dewi, semata-mata hanya karena dia adalah anak kandung dari wanita itu.
Ratna Kirana.
Ibu mertuaku. Wanita berumur tiga puluh enam tahun yang membuatku lupa segalanya.
Dia bukan ibu mertua tua yang kaku dan membosankan. Dia wanita paling seksi, paling mempesona, dan paling sempurna yang pernah kulihat seumur hidup. Kulitnya masih kencang dan bercahaya, senyumnya memabukkan, pembawaannya anggun bak ratu. Sebagai konten kreator populer dengan ribuan pengagum, Ratna Kirana tahu persis bagaimana caranya membuat semua mata tertuju padanya. Termasuk mataku.
Jarak umur kami cuma enam tahun. Enam tahun yang terasa tidak berarti sama sekali. Di mataku, dia bukan orang tua. Dia wanita. Wanita dewasa yang matang, cerdas, penuh pesona, dan jauh lebih menarik dibandingkan istriku sendiri yang masih terlihat seperti anak kecil.
Setiap hari aku tersiksa sekaligus bahagia.
Bahagia karena setiap pagi hal pertama yang kulihat adalah dia; rapi, wangi, cantik, sedang menyiapkan sarapan.
Tersiksa karena aku tahu, wanita seindah itu seharusnya tidak digabung dengan kata "ibu mertua".
Aku lebih rela menghabiskan waktu berjam-jam membantunya mengedit foto, mengatur pencahayaan, atau sekadar mendengarkan celotehnya, daripada mengajak istriku sendiri mengobrol. Bagiku, kata-kata bijak Ibu Ratna jauh lebih berharga daripada ocehan polos Dewi yang belum tahu apa-apa.
Tapi bagaimana caranya berhenti, kalau wanita yang seharusnya kuhormat itu justru diam-diam membalas tatapanku? Menikmati pujianku, menerima perhatianku, dan tersenyum bahagia saat aku ada di dekatnya?