WildaHussain
- Reads 2,478
- Votes 426
- Parts 57
Cerita ini bukan tentang siapa yang menolak siapa, melainkan tentang bagaimana takdir menuntun jalan.
Jika saja Max tidak memilih mempertahankan gengsi dan harga dirinya untuk mau confess, mungkin Melisa sudah bersamanya. Namun, Max lebih memilih melangkah pergi dan membuka hati untuk wanita lain.
Saat Melisa menyadari Max dan Sandy-dua pria yang berarti-telah berlalu, hadirnya Nicolas menjadi validasi bahwa ia masih berharga. Melisa mencoba melangkah maju. Karakter Nicolas yang sefrekuensi, dewasa, serta gentle membuat Melisa tidak keberatan dengan jarak usia. Namun saat mendapati fakta bahwa Nicolas masih berusia 18 tahun, logika Melisa menolak keras.
Waktu kian mendesak dan Melisa ingin memiliki pasangan, tetapi takdir justru mempertemukannya dengan pria bertunangan yang membohonginya. Bagi Melisa, pria itu berani mendekatinya saja sudah sebuah penghinaan. Tanpa ragu, ia memaki dan menampar pria tersebut.
Saat kembali membuka hati pada pria yang mengaku mencintainya, Melisa percaya dan setia menunggu kedatangan yang dijanjikan. Ibunya bahkan memasak banyak hidangan. Namun waktu terus berjalan, Melisa menunggu bagai siluman rubah yang menanti calon suaminya yang kabur-gelisah tak menentu arah-hingga pria itu tak kunjung datang.
Melisa akhirnya pasrah menerima perjodohan. "Mungkin inilah jodohku," pikirnya. Namun memaksa hati tanpa jeda adalah kekeliruan hingga ia lupa rasanya jatuh cinta. Di titik kepasrahan itu, takdir yang sebenarnya datang: Sandy.
Dua jiwa yang tak pernah berencana bersama, diikat oleh Tuhan lewat rindu yang menyiksa hingga saling mengakui. Mereka belajar mencintai tanpa syarat dan dipersatukan saat masa lalu masing-masing telah bersih dan berdamai.
Bagi kamu yang bertanya-tanya tentang Melisa di dunia nyata hari ini: Ia telah seutuhnya berdamai dengan segala luka dan takdirnya. Yang tersisa hanyalah versi terbaik dari dirinya sendiri.
#LoveYourself by Melisa