aaurita17
Alya Safira Pratama berada di fase hidup yang nyaris selesai. Semester tujuh, skripsi, dan pertanyaan tentang masa depan yang perlahan mulai mengetuk. Ia ceria, kritis, dan terbiasa mengutarakan pikirannya tanpa banyak penyaring.
Raka Mahendra justru berada di fase hidup yang sudah mapan. Dosen muda dengan reputasi rapi dan disiplin. Hidupnya berjalan teratur, tenang, dan nyaris tanpa kejutan.
Pertemuan mereka tidak dilandasi apa pun selain kewajiban akademik. Dosen dan mahasiswi. Pembimbing dan mahasiswa bimbingan. Tidak ada alasan untuk lebih dari itu.
Namun, seiring berjalannya waktu, interaksi sederhana mulai meninggalkan jejak. Perhatian kecil yang tak diminta. Percakapan yang tak sepenuhnya akademis. Keheningan yang terasa nyaman.
Di antara batas usia, peran, dan etika, tumbuh perasaan yang tidak pernah mereka rencanakan. Bukan cinta yang meledak-ledak, melainkan yang hadir perlahan dan matang.
Sebuah kisah tentang menunggu, memahami diri sendiri, dan memilih dengan sadar. Tentang dua orang dewasa yang belajar bahwa tidak semua hal harus dipercepat, dan tidak semua perasaan harus diucapkan dengan suara keras.
***
Surabaya, 18 Januari 2026
Riella.