Retnaya
- Reads 1,300
- Votes 179
- Parts 15
Matahari membakar semesta dengan nyala yang menyiksa, mengabarkan kehancuran dari takhta langit yang benderang. Inti jantungnya telah runtuh, pecah menjadi serpihan tak bersisa akibat kehilangan yang teramat pekat serta lara masa lalu yang terus membayangi tanpa jeda. Tiada lagi kehangatan yang memberi kehidupan, sebab yang tersisa di sana hanyalah tumpukan abu dari hasrat mendalam yang telah hangus terbakar habis.
Bintang-bintang yang dahulu bergerak lincah menembus keluasan malam, kini mendadak kaku, terkunci dalam keheningan yang dingin. Mereka kehilangan daya, rebah tanpa kuasa di bawah injakan penindasan serta goresan luka yang membentang panjang. Cahaya benderang mereka kini tersandera, terbelenggu erat di balik teruji kegelapan yang pekat.
Bulan memilih menyembunyikan parasnya yang elok di balik selubung kelabu yang tebal. Keanggunan wajahnya tidak pernah berkurang sedikit pun, meski terus didera oleh prasangka buruk serta tajamnya cercaan yang dihujankan bertubi-tubi. Ketika ia memutuskan mundur dan menghilang, kegelapan seketika menelan malam dengan sempurna, menyisakan kekosongan yang mencekam. Lantas, tatkala ia kembali muncul, sinarnya memancar begitu benderang, memamerkan keangkuhan yang dingin sekaligus menakjubkan saat memantulkan pendaran terangnya ke permukaan bumi.
Sementara itu, bertumpu pada hamparan tanah, kelopak-kelopak bunga yang rapuh merunduk pasrah hingga menyentuh bumi. Keindahan mereka koyak dan hancur di bawah pijakan kaki, binasa oleh kekeliruan tafsir serta benih-benih kebimbangan yang ditebar oleh ketidakpahaman sekitar. Mereka layu dan gugur, kehilangan kesempatan untuk merekah utuh dalam keindahan yang paripurna.
Lalu, siapakah yang memiliki keberanian untuk menentang sang pemilik hati yang tengah berkobar hebat oleh amarah dan duka ketika Zhao Yuanzhou mengerahkan segala muslihat dan siasat, menyusun rencana rapi untuk menggenggam kedamaiannya yang berwujud Zhuo Yichen?