penasyana
Qeez berdiri sambil megang teh tawarnya yang mulai dingin, dengan matanya nyempil penasaran. Bukan karena kepo tetangga, tapi karena dia kenal sangat dengan rumah itu dan terlalu mengenal.
Lima tahun lalu, ada satu sosok yang pergi dari sana tanpa pamit apa-apa ke hidup Qeez.
Harrev Vhansradipta.
Kakak dari Areta Pradipa Theana, pria dengan wajah pangeran Inggris dan sikap sedingin kulkas dua pintu. Pikiran Qeez berkelana dengan diri Harrev dulu yang jarang sekali nongkrong, jarang tersenyum, bahkan jarang ada.
Sekarang-tiba-tiba muncul setelah lima tahun ia memutuskan melanjutkan pendidikan di luar negri tanpa pernah mau mampir sebentar ke Indonesia di hari hari perayaan tertentu di sini.
Qeez menyengir kecil
sengiran lama tiap menemukan hal yang membuat dadanya agak tidak nyaman. "Pulang juga, tuh orang," gumamnya, entah ke siapa.
Harrev turun dari mobil dengan wajah datar , berantakan namun semakin menggoda dengan posturnya yang tinggi, namun auranya begitu asing.
Jakarta jelas bukanlah tempat yang dia rindukan.
Australia lebih cocok dengan dirinya-salju, kebebasan, hidup tanpa harus kenal siapa-siapa.
atau tanpa menoleh kepada siapa siapa
Padahal jarak mereka, hanya dipisahkan oleh pagar seberang, dan seperti benang takdir tampa disadari
Pertemuan mereka di tempat kerja Qeez cukup menyentil egonya.
"Gue di sini penghubung, bukan lady..." katanya, suara sedikit bergetar tapi tegas, mencoba menjelaskan profesinya.
Harrev menatapnya dengan dingin, masih menyimpan ekspresi seperti mengejek. "Gak percaya gue?"
"Bukan ranah gue juga buat bikin lo percaya..." balas Qeez dengan nada yang tak kalah dingin dari Harrev. Bibirnya bergetar sedikit, tapi ia tetap menahan emosi.