sweedzz_
- Reads 24,778
- Votes 1,895
- Parts 8
Di koridor kampus yang sibuk, Samudra, seorang dosen yang dikenal dengan ketegasan dan kecerdasannya, melangkah dengan mantap, tapi matanya kosong, seperti mencari sesuatu yang tidak bisa dia temukan. Beberapa mahasiswa yang berpapasan dengannya menyapanya dengan hormat, tapi dia tidak benar-benar melihat mereka. Dia tidak melihat senyum-senyum manis, tidak melihat mata-mata yang berbinar, tidak melihat apa pun kecuali bayang-bayang Hazel, cinta pertamanya yang telah pergi.
Nathan, temannya sejak lama, mencoba mendekatinya, tapi Samudra tidak siap untuk berbicara. "Gimana?" tanya Nathan, tapi Samudra hanya mengangkat bahu. Tidak ada yang berubah, tidak ada yang bisa mengisi kekosongan yang ditinggalkan Hazel.
Mereka berhenti di depan pintu kelas, dan Samudra memandang Nathan dengan sorot mata yang tajam, seperti ingin membakar semua yang ada di depannya. "Apa ada yang bisa gantiin sosok Hazel dalam hidup gue? Apa ada manusia yang bisa mirip seperti Hazel?" tanyanya, suaranya rendah tapi penuh emosi, seperti ingin meledak.
Nathan terdiam sejenak, seperti tahu bahwa Samudra tidak siap untuk mendengar jawaban. "Lo butuh lentera di lorong yang lo lewatin, sebuah pencahayaan agar kaki lo gak salah langkah dan nyakitin diri lo sendiri," katanya, mencoba membuka mata Samudra.
Tapi Samudra tidak mau mendengar. Dia tersenyum, tapi bukan senyum yang bahagia. "Gue akan jalan di tempat yang tidak asing oleh bayangan langkah kaki gue, walaupun gelap tapi langkah kaki gue tau tempat tersebut," katanya, suaranya penuh keyakinan, tapi juga penuh kesedihan.
Samudra tahu bahwa dia tidak bisa melupakan Hazel, tapi dia tidak tahu bagaimana cara untuk melanjutkan hidup tanpa dia. Dia terjebak dalam kesedihan, amarah, dan kesal, tidak tahu bagaimana cara untuk keluar dari lorong gelap yang dia jalani.