selinsulin
Tidak semua luka harus sembuh.
Tidak, semua luka harus sembuh.
Tiga tahun bukan waktu yang singkat bagi dua jiwa yang sama-sama terluka.
Mereka bertemu bukan untuk saling menyelamatkan, melainkan untuk bertahan bersama, saling melengkapi dan menerima.
Bagi yang satu, rumah adalah tempat yang penuh suara - bukan obrolan hangat, bukan percakapan tentang masa depan atau besok mau menjadi apa, melainkan - teriakan, amarah, dan luka yang tak sempat sembuh sebelum kering. Sentuhan orang tua lebih sering berubah menjadi kekerasan, membuatnya belajar diam sebelum bicara.
Sementara bagi yang lainnya, rumah justru terlalu sunyi.
Orang tua yang sibuk mengejar kesuksesan membuat meja makan kehilangan cerita, ruang tamu kehilangan tawa, dan sudut-sudut rumah hanya menjadi tempat singgah, bukan tempat pulang. Ia merindukan sisi rumah yang dulu, saat percakapan sederhana masih lebih berharga, saat di penghujung hari selalu ada cerita baru.
Dalam hubungan itu, mereka menemukan ketenangan yang tak lagi didapatkan dari keluarga. Hangat, sederhana, seolah dunia bisa dijeda sejenak. Namun tak semua luka bisa terus disembunyikan, dan tak semua ketenangan mampu bertahan selamanya.
***
"Bertemanlah dengan orang yang lebih tua darimu, kau akan temukan banyak pelajaran darinya. Bertemanlah dengan orang yang usianya lebih muda darimu, disitulah kau akan diterima apa adanya, diperhatikan tanpa dihakimi, didengar tanpa dikhianati. Kalau bisa, jangan bersahabat dengan yang seumuran, kau tak akan menemukan semua itu."
~ Arseno Zeiround Arzhad.
"Aku tidak butuh seseorang untuk bercerita. Aku hanya menginginkan ruang yang mengizinkanku untuk diam, bersandar, lalu menangis." ~ Lorena Sera Sylveera.