Febryangelina_
Dua hari sebelum siswa baru pindah ke kelasnya, Anran bermimpi.
Dalam mimpi itu, ia berada di sebuah hutan yang sepi namun terawat. Ia mengenakan gaun putih yang terlihat cantik membalut tubuhnya, dan di depannya berdiri seorang laki-laki asing-juga berpakaian serba putih.
Anran tidak mengenalnya. Tapi entah kenapa, ia merasa menyukai laki-laki itu.
Sayangnya, laki-laki itu justru menolak kehadirannya. Menatapnya dengan marah, lalu pergi tanpa sepatah kata pun.
Lalu dua hari kemudian, seorang murid baru datang ke kelasnya. Wajahnya sama, namanya sama, tetapi ekspresi dan perasaaan yang berbeda. Anran terkejut.
Sejak hari itu, hidupnya tak pernah sama lagi.
Pria itu banyak bicara, sering menganggunya, suka perhatian, penuh tingkah, dan sering kali menyebalkan. Tapi di tengah kekacauan kecil khas remaja, ada sesuatu yang tumbuh-pelan-pelan, tanpa mereka sadari.
Ini adalah kisah tentang pertemanan, gengsi, dan perasaan yang datang terlalu diam-diam untuk diakui.
Tentang mimpi yang tak selesai.