Kisah lepas
20 stories
Sekarang Atau Lima Puluh Tahun Lagi de bintarobastard
bintarobastard
  • WpView
    Leituras 498
  • WpVote
    Votos 76
  • WpPart
    Capítulos 15
Sinopsis: Jakarta, 1995. Di antara debu pembangunan kota dan aroma kuah mie ayam yang mengepul, takdir menukar tas belanjaan dua pemuda pelarian. Lima, perantau Singkawang yang menyembunyikan identitasnya di balik dandang Glodok, menemukan rumah pada Genting, priyayi Solo yang lari dari sangkar emas keraton. Mereka bertahan melewati badai krisis '98, membangun pondasi cinta yang kokoh di atas rawa ibukota yang labil. Namun, saat milenium baru datang, maut merenggut Genting secara brutal di trotoar Melawai-meninggalkan Lima sendirian dengan janji "lima puluh tahun lagi" yang kandas. Di tengah duka yang melumpuhkan, Lahar-partner bisnis Genting yang karismatik-masuk ke dalam kehidupan Lima. Ia menawarkan perlindungan dari preman dan kehangatan di malam yang dingin. Namun, di balik tatapan teduh Lahar, tersimpan rahasia masa lalu Genting yang belum terungkap.
Kilau Achilles  de bintarobastard
bintarobastard
  • WpView
    Leituras 418
  • WpVote
    Votos 56
  • WpPart
    Capítulos 12
Senayan, Mei 1998. Di bawah bayang-bayang kubah hijau Gedung DPR/MPR yang ikonik, sejarah sedang ditulis ulang. Ribuan mahasiswa menduduki atap gedung, menciptakan lautan jaket warna-warni yang menuntut reformasi. Di antara barikade pertahanan, Achilles Sumampouw, seorang Letnan Dua muda, berdiri tegang dengan laras senjata terarah ke kerumunan. Ia adalah benteng terakhir rezim yang sedang sekarat. Di seberang laras senjatanya, berdiri Kilau Subuh Smaradana, mahasiswa UGM berdarah Jogja yang memimpin orasi di tangga utama. Matanya nyalang, suaranya parau meneriakkan kebebasan. Malam itu, saat situasi memanas dan perintah "bersihkan area" bergaung samar, Achilles membuat keputusan yang mengkhianati seragamnya. Alih-alih menyeret Kilau ke truk tahanan, ia menarik pemuda itu bersembunyi di pos jaga yang gelap di sudut kompleks parlemen. Di titik nol demokrasi itulah, "tendon" nasib mereka tersambung: Achilles sang prajurit menjadi pelindung, dan Kilau sang demonstran menjadi alasan. Sanggupkah cinta yang lahir di tengah revolusi bertahan, ketika satu jiwa telah tersandera oleh politik, dan jiwa lainnya tersesat mencari penebusan? Di gerbang Senayan, tendon yang menghubungkan mereka menegang hingga titik nadir, menunggu saatnya putus.
dua matahari de bintarobastard
bintarobastard
  • WpView
    Leituras 485
  • WpVote
    Votos 114
  • WpPart
    Capítulos 16
Jakarta memiliki dua matahari yang tak seharusnya berpapasan. Di puncak menara gading, ada Julian Bagaskara, "Matahari Harapan Bangsa" yang bersinar terang namun tercekik oleh citra sempurnanya sendiri. Di aspal jalanan yang keras, ada Weruh Srengenge, "Matahari Jalanan" yang membakar kulit dengan realitas pahit ibu kota. Ketika sebuah ledakan meruntuhkan panggung sandiwara politik, Julian terlempar dari singgasananya ke boncengan motor butut Weruh. Pelarian ini menyeret Sang Capres masuk ke labirin gang tikus Jakarta, memaksanya menatap silau kebenaran di mata Weruh. Ini adalah kisah tentang dua cahaya yang bertabrakan di tengah kekacauan: satu yang menyilaukan mata, dan satu yang menghangatkan jiwa.
rumah kembang sepatu  de bintarobastard
bintarobastard
  • WpView
    Leituras 74
  • WpVote
    Votos 25
  • WpPart
    Capítulos 5
​"Satu mesin faks rusak. Satu pesan yang tak seharusnya ada." ​Toya Darmawan (29) melarikan diri ke Tangerang untuk mengubur rasa malu dan patah hati. Kekasih rahasianya, Binar, memilih menikahi wanita lain-ironisnya, wanita yang justru dikenalkan oleh Toya sendiri. Merasa "tumpul" dan kehilangan arah, Toya menerima proyek restorasi di "Rumah Kembang Sepatu", sebuah bangunan tua berasitektur Cina Benteng di tepi Sungai Cisadane yang menyimpan kesunyiannya sendiri. ​Rumah itu seharusnya menjadi tempat persembunyian yang tenang. Namun, pada satu malam badai, keheningan pecah. Sebuah mesin faks Panasonic usang yang teronggok berdebu di ruang kerja mendadak hidup. Tanpa listrik, tanpa kabel telepon, mesin itu menjeritkan suara mekanis dan memuntahkan kertas termal berisi pesan misterius. ​Seseorang di ujung sana menyapa, seolah-olah ia sedang duduk di ruangan yang sama, menatap hujan yang sama. ​Apa yang bermula dari ketakutan akan teror, perlahan berubah menjadi rasa penasaran yang mematikan. Toya mendapati dirinya terlibat percakapan intens dengan sosok tanpa wajah di balik mesin mati itu. Sosok yang menyebut dirinya "Tombak" . Sosok yang entah bagaimana, mengetahui rahasia-rahasia rumah itu sebelum Toya menyadarinya. ​Di antara dering mesin faks tengah malam, Toya mulai mempertanyakan kewarasannya. Apakah ini lelucon kejam dari seseorang yang mengawasinya? Hantu masa lalu yang gentayangan? Ataukah Toya sedang jatuh cinta pada ilusi yang ia ciptakan sendiri untuk mengobati sepinya? ​Toya harus mencari tahu siapa yang berada di ujung sana sebelum ia kehilangan dirinya sendiri. Namun, beberapa jawaban mungkin lebih baik dibiarkan tak tertulis. rumah kembang sepatu
diet pepsi de bintarobastard
bintarobastard
  • WpView
    Leituras 759
  • WpVote
    Votos 66
  • WpPart
    Capítulos 14
Fajar, seorang HRD di perusahaan startup Jakarta, menjalani hidup seperti spreadsheet: rapi di permukaan, hampa di dalam. Ia baru saja keluar dari hubungan gelap dua tahun dengan seorang pria beristri-kisah yang tidak pernah benar-benar dimulai, dan justru membusuk dalam diam. Sejak itu, hidup Fajar tersusun dari denial dan Diet Pepsi. Ia tidak menyebut dirinya kesepian, hanya "sibuk." Ia tidak bilang dirinya terluka, hanya "butuh waktu." Tapi setiap pagi, ia meneguk soda dingin di kos-kosan kecilnya dan berharap tubuhnya tidak terasa terlalu nyata. Malam-malamnya dipenuhi gula sintetis, makanan delivery, notifikasi kosong, dan pertanyaan dalam kepala yang tidak pernah dijawab. Hingga suatu malam, di depan kulkas minimarket 24 jam, ia bertemu seorang laki-laki eksentrik yang memanggilnya dengan cara yang belum pernah dilakukan siapa pun: lewat tubuhnya. Bukan rayuan. Bukan ancaman. Tapi lewat rebusan jahe, lewat larangan halus untuk tidak memesan ojek, lewat tantangan untuk jalan kaki dua blok. Namanya Kelam. Ia hadir seperti seseorang yang tidak pernah diundang, tapi entah kenapa tahu seluruh isi lemari Fajar-termasuk yang terkunci rapat. Kelam membawa botol jamu, jaket tambalan, dan logika dunia yang tidak selalu rasional. Tapi kehadirannya membuat waktu terasa lebih lambat. Lebih penuh. Lebih menakutkan. Karena yang paling Fajar takuti bukan orang asing... Tapi orang yang melihatnya terlalu jelas, tanpa pernah diminta. Siapa sebenarnya Kelam? Kenapa ia tahu terlalu banyak? Dan kenapa tubuh Fajar merasa lebih hidup setiap kali ia datang? Pertemuan ini membuka satu pintu kecil dalam hidup Fajar. Pintu yang tidak pernah ia berani buka sendiri. Tapi setelah terbuka... tak ada yang bisa kembali persis seperti sebelumnya.
Jika  de bintarobastard
bintarobastard
  • WpView
    Leituras 1,300
  • WpVote
    Votos 30
  • WpPart
    Capítulos 12
Di tengah sunyi pandemi Jakarta 2020, Gerimis Mochtar (Geri), penulis berusia 38 tahun, meluncurkan novel terbarunya, Jika, lewat konferensi Zoom setelah sembuh dari Covid-19. Bagi dunia luar, Jika hanyalah roman berlatar Tangerang 1997-tentang persahabatan, cinta remaja, dan kehilangan di tengah keluarga kelas pekerja lapak rongsokan. Namun di balik halaman-halamannya, tersembunyi memoar rahasia Geri: pengakuan diam-diam tentang cinta dan penyesalan terbesar hidupnya. Dua puluh tiga tahun lalu, Geri adalah remaja pemalu berusia 15 tahun, terobsesi menulis cerita dan bercita-cita menjadi novelis. Di lapak rongsokan keluarganya, ia dekat dengan Hasrat-pemuda 20 tahun yang menyalakan gairah Geri pada dunia menulis-dan Bisma, abang karismatiknya yang juga menjadi idola banyak orang. Ikatan ketiganya berubah pelik ketika Geri menyadari kedekatan emosional dan romantis antara Hasrat dan Bisma. Kecemburuan dan keinginan untuk menjadi yang utama membuat Geri muda melakukan satu kesalahan fatal: menuduh Hasrat sebagai pencuri dan penyebab aib keluarga, fitnah yang berujung pada pengusiran Hasrat dan kepergian Bisma dari rumah. Sejak hari itu, Geri hidup dalam penyesalan panjang. Segala pencapaian, tulisan, dan kehidupan dewasanya tak pernah sanggup menutup luka batin itu. Jika ia tulis bukan untuk menebar sensasi, melainkan sebagai upaya menebus dosa pada dua lelaki yang ia cintai dan sakiti-Hasrat dan Bisma-meski tanpa pernah mengakui kisah sebenarnya pada siapa pun. Melalui Jika, Geri berharap: penyesalan, cinta, dan kata "maaf" yang tak pernah terucap, akhirnya menemukan tempatnya di antara halaman dan hujan. Di luar sorotan Zoom dan keramaian media, Jika tetap menjadi pengakuan sunyi-sebuah permohonan pengampunan yang hanya bisa dimengerti oleh mereka yang pernah kehilangan segalanya karena cinta dan keegoisan sendiri.
Lorosae  de bintarobastard
bintarobastard
  • WpView
    Leituras 674
  • WpVote
    Votos 79
  • WpPart
    Capítulos 19
Kadang, ketika malam menebar angin dari Laut Timor dan kota Dili terbaring setengah mati, aku masih terjaga di antara suara jangkrik dan gema lonceng gereja tua. Di kursi rotan tua, di rumah sewa yang kini hanya disinggahi bayangan, aku mendengar kembali langkah-langkah masa lalu: deru sepatu bot di lorong rumah sakit, tangis perempuan di jalan berbatu, dan suara lirih lelaki yang membacakan puisi di bawah lampu petromaks. Namaku Arjuna Sihombing. Di negeri ini, aku pernah datang sebagai utusan negara-dokter yang membawa sumpah, percaya akan merah putih yang berkibar di tanah asing, percaya pada tugas, dan pada rumah yang kutinggalkan jauh di Jakarta. Tapi negeri ini, Timor Timur, menelanjangi semua keyakinan itu. Ia mencabik hatiku, lalu menanam benih lain di dalamnya: benih ragu, benih kehilangan, dan sesuatu yang selama bertahun-tahun berusaha kupadamkan-kerinduan pada lelaki bernama Manuel Soares. Manuel bukan sekadar luka atau kenangan, bukan pula sekadar korban dalam perang yang tak kupahami. Ia adalah puisi di tengah reruntuhan, tawa di antara letupan senjata, suara pelan yang menuntun aku menyeberang dari batas-batas yang diajarkan sejak kecil: antara Indonesia dan Timor, antara benar dan salah, antara cinta dan takut. Kini, dari kejauhan, ketika kabar kemerdekaan Timor Leste sampai ke telingaku seperti kabut pagi yang pelan-pelan membungkus ibukota, aku tahu kisah kami hanyalah sebutir pasir dalam sejarah besar bangsa-bangsa. Tapi bagi hati yang pernah saling berjanji dalam bisu, kisah itu adalah dunia itu sendiri-dunia yang akan tetap hidup selama malam-malam di Dili masih menulis ulang namanya sendiri.
19 de bintarobastard
bintarobastard
  • WpView
    Leituras 1,236
  • WpVote
    Votos 176
  • WpPart
    Capítulos 24
Di awal tahun 2020, dunia mendadak remuk oleh pandemi. Solo dan Jakarta-dua kota yang biasanya riuh oleh lalu-lalang manusia-tiba-tiba membisu, menahan napas di antara deru sirene ambulans dan pengumuman lockdown. Di tengah krisis ini, dua pria yang hampir kehilangan dirinya sendiri justru menemukan kembali jejak masa lalu yang sempat mereka kubur rapat-rapat. Hening Sandikala, 35 tahun, seorang pelukis melankolis yang baru saja menggelar pameran tunggal di galeri tua Mangkunegaran, Solo, bersiap pulang ke Jakarta. Ia telah lama membiasakan diri hidup di bayang-bayang kanvas, cat minyak, dan keraguan-sendirian, berpindah-pindah kota, ditemani sahabat setia seperti Devi si kurator galeri yang vokal, atau Nyi Samiyem, ibu kos klasik yang terlalu peka membaca isi hatinya. Di bandara Adi Sumarmo yang lengang, ketika semua orang menunggu hasil swab test, Hening bertemu lagi dengan sepasang mata yang tak pernah benar-benar hilang dari ingatannya-Tawa Suryanegara, 36 tahun. Dulu Tawa hanyalah pemuda penjaga toko buku kecil di Karet Belakang Jakarta-tempat Hening remaja menukar uang dan puisi diam-diam di balik konter kayu, masa lalu yang tercabut mendadak oleh krisis moneter '98. Kini Tawa adalah pemilik rumah makan ayam kremes yang harus menutup salah satu cabangnya karena pandemi Dua pria ini tumbuh, terluka, lalu berputar di orbit kehidupan yang berbeda-namun selalu gagal benar-benar saling melupakan. Sekeliling mereka, dunia juga berputar: Pandemi memaksa semua orang diam, namun justru di situlah kerinduan dan cinta yang tertunda-sejak remaja, sejak toko buku yang sunyi, sejak dunia berubah jadi lebih takut pada diri sendiri-akhirnya diberi ruang untuk bicara. Di antara ruang tunggu bandara, rapat daring, pesan-pesan WhatsApp, dan lorong kota yang makin sepi, Hening dan Tawa akhirnya menatap lagi semua yang sempat tak selesai.
Nyekar de bintarobastard
bintarobastard
  • WpView
    Leituras 957
  • WpVote
    Votos 42
  • WpPart
    Capítulos 12
Setelah bertahun-tahun bekerja sebagai staf rumah tangga kepresidenan, Senja kembali ke kampung halamannya di Magelang. Tak ada alasan besar. Tak ada pengumuman. Ia hanya ingin menziarahi makam kedua orang tuanya, menata bunga, membersihkan nisan, dan memberi waktu pada dirinya sendiri untuk diam. Magelang menyambutnya tanpa kejutan. Rumah lamanya masih berdiri di timur alun-alun, dengan pintu kayu yang berderit dan debu yang mengendap seperti waktu yang tak pernah benar-benar berjalan. Di kamar tidurnya yang sempit dan sunyi, Senja menemukan sebuah kotak sepatu tua di bawah ranjang-dan di dalamnya, selembar surat. Surat yang pernah ia tulis, bertahun-tahun lalu, kepada seseorang yang pernah mengguncang hatinya dalam diam: Kilat Kidung Swargaloka, teman masa seminari yang membuatnya meragukan banyak hal, termasuk dirinya sendiri. Mereka tidak pernah saling mengucap. Tidak pernah saling bersentuhan lebih dari kata-kata di kelas atau bisikan doa malam. Tapi dalam surat itu, Senja sempat menulis apa yang tak pernah berani ia ucapkan. Kini, membaca ulang tulisan tangannya sendiri, Senja tak mencari pengampunan atau penjelasan. Ia hanya mencoba memahami kenapa hal-hal kecil yang tertinggal bisa terasa lebih tajam dari kehilangan itu sendiri. "Nyekar" bukan kisah tentang pertemuan. Bukan tentang cinta yang sempat mekar dan layu. Tapi tentang keberanian untuk kembali, untuk mengingat, dan untuk meletakkan sesuatu yang lama tertahan di tempat yang lebih tenang. Ini adalah perjalanan pulang yang tanpa peta, hanya didorong oleh perasaan bahwa sesuatu di masa lalu belum selesai-dan barangkali tak harus diselesaikan, cukup diterima.
the house of Van kloppen de bintarobastard
bintarobastard
  • WpView
    Leituras 1,190
  • WpVote
    Votos 156
  • WpPart
    Capítulos 21
Di tanah dataran tinggi Salatiga, yang diselimuti kabut pagi dan gema lonceng gereja kolonial, sejarah tidak hanya ditulis oleh penjajah, tetapi juga oleh luka yang diwariskan secara diam-diam. Di sanalah kisah ini bermula-antara pewaris tanah yang mengambil, dan anak dari tanah yang diambil. Willem van Kloppen adalah putra bungsu keluarga Belanda yang mengakar kuat dalam sistem kolonial Hindia. Dibesarkan dalam benteng marmer dan aturan yang tak kenal ampun, ia adalah anak dari Joseph van Kloppen-seorang penguasa tanah yang namanya ditakuti dan dihormati, tergantung siapa yang mengucap. Di sisi lain, Yafet Abimanyu kembali ke Salatiga bukan sebagai anak rantau biasa. Ia datang membawa warisan dendam yang disimpan rapat sejak tanah adat milik ayahnya, Sulaiman Abimanyu dirampas paksa oleh Joseph Van Kloppen bertahun-tahun lalu. Yafet tumbuh dengan cerita tentang pengkhianatan, tanah yang dijadikan perkebunan, dan salib yang dirobohkan dengan ejekan. Ia tidak berniat tinggal lama. Hanya cukup untuk membalas. Tapi hidup, seperti sejarah, tak pernah lurus. Dan pada malam pesta debutante kakak Willem, ketika lampu-lampu gantung bersinar seperti bintang palsu dan musik dansa berdenting dari ruang tengah, Yafet menyelinap masuk. Ia ingin melihat langsung wajah keluarga Van Kloppen. Yang ia temukan justru Willem-mabuk, muak, dan tersesat di taman belakang. Itu bukan permulaan yang ditulis dalam kitab-kitab suci, tapi itulah awal mereka. Bukan sekadar cinta. Ini adalah cerita tentang dua warisan yang bertabrakan-antara penguasa dan yang tertindas, antara pewaris kekayaan dan pewaris luka. Tapi juga tentang bagaimana kadang, di tengah bara dendam, cinta yang paling jujur justru menyala.