Luvv
3 stories
I Miss You, Luffy by Oryo_chan
Oryo_chan
  • WpView
    Reads 41,745
  • WpVote
    Votes 2,284
  • WpPart
    Parts 4
Bahkan sampai saat kru Mugiwara dibubarkan, Luffy berkata dengan senyum cerahnya. 'Ayo kita berpetualang lagi nanti.' Karena banyak yang buat fiction versi Luffy setelah menjadi Raja Bajak Laut, jadi aku juga buat versiku sendiri. Jika ada kesamaan, mohon maaf. Dan selamat menikmati. (^0^)
Illusion by Oryo_chan
Oryo_chan
  • WpView
    Reads 2,835
  • WpVote
    Votes 203
  • WpPart
    Parts 1
Fiction One Piece, Prequel atau cerita sebelum fict "I Miss You, Luffy" "Kau tahu." Luffy menutup matanya sejenak, dan membukanya lagi. "Aku tak akan menikahimu." Kalau membicarakan soal penantian panjang yang lebih dari setahun, Luffy tidak ada apa-apanya dibandingkan Brook yang menunggu seseorang selama lima puluh tahun untuk mewujudkan impiannya. Dia memang menanti sepuluh tahun untuk membuat dirinya jadi Bajak Laut, menanti dua tahun untuk kembali berkumpul bersama teman-temannya di kepulauan Sabaody, dan sekarang menanti setahun untuk lahirnya harapan baru. Dua harapan baru yang Luffy tanam sejak berada di tempat ini setahun lalu, salah satunya gugur mengering. Tidak peduli berapa banyak pupuk harapan yang kau berikan atau berapa siraman kesetiaan, pohon itu tidak akan bisa hidup kembali. Luffy tidak peduli berapa lama dia akan terus berada di sini, asalkan dia tidak melihat teman-temannya atau orang yang disayanginya mati di depan matanya.
Patah Hati Setengah Komedi by bangtaniueo
bangtaniueo
  • WpView
    Reads 57,935
  • WpVote
    Votes 4,778
  • WpPart
    Parts 32
"Bun, semasa remaja Bunda pernah nangis gak?" tanya Azya, lagi makan batagor. Bunda diam sebentar. Nampak mengingat-ingat sesuatu. Seulas senyum lantas terlukis di bibirnya, beliau menjawab, "Pernah. Bunda suka." Kening Azya berkerut tak mengerti. Baru kali ini dia tahu ada orang yang suka menangis. Dan orang itu bundanya sendiri. "Kok suka, Bun?" "Karena penyebab nangisnya bisa bikin Bunda jadi kuat. Dan penyebab nangisnya bisa membuat seseorang jadi dewasa." Azya diam. Meminta penjelasan lebih. "Kamu tau apa itu?" lanjut Bunda bertanya seraya mengelus rambut anak bungsu kesayangannya itu begitu lembut. "Apa, Bun?" "Patah hati."