SantipuspitaNingrum
Di ketinggian 1.653 meter, di batas langit yang bertaut dengan bumi, dua jiwa yang tak pernah merencanakan perjumpaan justru saling menemukan dalam kebisuan semesta. Kabut menari di antara pepohonan, membisikkan rahasia yang hanya bisa dipahami oleh hati yang sedang belajar mengenal. Angin yang berembus bukan sekadar udara yang berlari, tetapi utusan takdir yang membawa bisikan perasaan yang diam-diam tumbuh.
Gunung menyimpan banyak rahasia, tentang sunyi yang lebih jujur dari kata-kata, tentang jejak yang ditinggalkan bukan hanya di tanah, tetapi juga di hati. Tapi di antara semua yang tersembunyi, yang paling tak terduga adalah bagaimana langkah-langkah kecil, yang awalnya hanya bagian dari perjalanan, perlahan menuntun hati pada satu nama yang tak lagi bisa diabaikan.
Rintik hujan jatuh seperti tanda baca pada cerita yang sedang ditulis semesta, membasahi tanah yang dingin, menghidupkan perasaan yang tak bisa dihindari. Angin mendesir, mencoba menjadi pengingat bahwa logika selalu ingin membangun dinding, tetapi cinta selalu tahu cara meruntuhkan tembok yang paling kokoh.
"Cinta 1653 Mdpl" bukan sekadar kisah pertemuan di puncak, bukan hanya tentang dua pasang mata yang saling menangkap sorot rindu yang belum tersadari. Ini adalah cerita tentang perasaan yang tumbuh di antara bebatuan yang kasar, mengakar di tanah yang dingin, dan tetap bertahan meski badai mencoba mencabutnya. Tentang cinta yang tak mencari tempat untuk singgah, tetapi menemukan rumahnya sendiri di dada seseorang.