DazaynDazayn
Di ambang kehampaan, di antara hidup dan mati, Defreyan menghadapi pertanyaan yang terus menerus mengguncang dirinya sendiri.
Apakah ini yang benar-benar ku inginkan?
Saat pikirannya dipenuhi keraguan, sebuah keajaiban terjadi. Ia terbangun kembali, bukan di alam setelah kematian, tetapi di masa lalu, satu tahun sebelum ia meninggalkan dunia. Namun, dia bukan kembali menjadi muda sedia kala, bukan hanya sekadar bayangan atau saksi bisu. Dia dihadapkan dengan dirinya sendiri, Ia bisa melihat, berbicara, dan berinteraksi dengan dirinya yang lebih muda-versi dirinya yang masih tenggelam dalam keputusasaan, yang belum tahu bahwa hidup akan menyeretnya ke jurang yang lebih gelap.
dengan luka-luka yang telah dikenalnya dan kesalahan-kesalahan yang pernah diperbuat, Defreyan punya tujuan untuk menyelamatkan dirinya sendiri sebelum semuanya terlambat. Ia harus menanamkan harapan di hati yang mulai padam, menyulut api semangat di jiwa yang hampir musnah, atau setidaknya ia ingin melihat dirinya sendiri bahagia dengan harapan harapan yang dia impikan selama ini.
Namun mengubah diri sendiri bukan perkara mudah. Bagaimana meyakinkan seseorang yang telah kehilangan arah, ketika orang itu adalah dirimu sendiri? Bagaimana membimbing langkah yang pernah salah tanpa mengulang luka yang sama?
Tetapi, apakah mungkin mengubah takdir? Apakah dirinya yang lebih muda mau mendengarkan seseorang yang mengaku sebagai dirinya dari masa depan? Seberapa besar campur tangannya akan mempengaruhi hidupnya sendiri?
Dalam perjalanan yang penuh dilema, pertarungan batin, dan secercah harapan, Defreyan harus menghadapi kenyataan bahwa kesempatan kedua bukan hanya tentang kembali-tetapi tentang berjuang agar dirinya benar-benar hidup.
Namun, satu pertanyaan tetap menghantuinya: Jika takdir memang bisa diubah, akankah ia akhirnya menemukan kebahagiaan yang selama ini terasa mustahil? Ataukah ia hanya akan menyaksikan sejarah yang sama terulang untuk kedua kalinya?