itssooanya's Reading List
1 story
Why Be a Heroine? When You Can Be a Rich Villainess? by itssooanya
itssooanya
  • WpView
    Reads 617
  • WpVote
    Votes 127
  • WpPart
    Parts 12
Rhea Sasmita tahu bahwa kesempurnaan menuntut pengorbanan, tapi dia tidak pernah menyangka bahwa harga dari kariernya sebagai desainer adalah nyawanya sendiri. Namun, takdir memiliki selera humor yang gelap. Rhea terbangun dalam tubuh Lady Thalassa von Asteria, seorang villainess yang ditakdirkan mati secara tragis dalam novel romansa picisan yang pernah ia baca. Terjebak di era Victoria yang megah namun penuh intrik, Thalassa memutuskan untuk berhenti mengejar cinta sang Kaisar yang tak tergapai. Baginya, tumpukan sutra emas dan kekayaan Duke Asteria jauh lebih menggoda daripada pria yang akan memenggal kepalanya. Ia hanya ingin hidup tenang, membelai kain-kain mewah, dan menciptakan mahakarya busana yang belum pernah dilihat dunia. Namun, semakin Thalassa menjauh, semakin dunia tampak berputar di sekelilingnya. Di antara deru mesin jahit dan aroma teh yang mahal, ia terjebak di antara dua pria yang berbahaya: Lord Lysander, sang Duke Utara yang memiliki kelembutan sedingin es, dan Caspian, Sang Kaisar Tiran dengan mata merah keemasan yang mampu membakar siapapun yang berani menatapnya. Thalassa sudah berusaha bersikap tak sopan, dingin, dan acuh tak acuh. Namun, mengapa Sang Tiran yang haus darah itu justru berlutut di hadapannya? Mengapa jemari kasar yang biasa memegang pedang itu kini gemetar saat menyentuh helaian rambut platinum blonde-nya? "Kau menghindar seolah-olah aku adalah maut, Thalassa. Tapi tahukah kau? Bahkan maut pun tidak akan berani menyentuhmu tanpa izin dariku." Dalam labirin obsesi, pengkhianatan, dan renda-renda gaun yang berdarah, Thalassa tersadar; melarikan diri dari alur novel adalah satu hal, namun melarikan diri dari jerat Sang Tiran adalah kemustahilan yang manis. Thalassa hanya ingin hidup bergelimang harta, dan menikahi tumpukan kain sutra-bukan Kaisar gila yang hobi menebas leher orang! Namun, kenapa saat ia bersikap sekasar amplas, Sang Tiran justru menatapnya dengan binar penuh puja?