Affection99
- Reads 1,222
- Votes 212
- Parts 8
Elio pernah percaya bahwa cinta adalah fondasi yang cukup untuk membangun kesempurnaan. Ia mengira delapan tahun pernikahannya dengan Ayden adalah bukti tak terbantahkan dari keyakinan itu, hingga tiba saat malam perayaan anniversary ke-8 tersebut meruntuhkan segala ilusinya dalam sekejap mata.
Malam itu, lilin-lilin di atas kue bunga matahari tidak menyala untuk merayakan cinta, melainkan membakar sisa-sisa harapan Elio hingga menjadi abu. Ayden pulang bukan dengan pelukan hangat, melainkan membawa wanita lain bernama Jinyi dan sebuah koper sebagai deklarasi sunyi bahwa rasa ingin tahu dan hasratnya lebih berharga daripada kesetiaan Elio selama hampir satu dekade.
Dengan nada datar yang dingin dan menyayat, Ayden meminta izin untuk merasakan pengalaman hidup sebagai pasangan normal bersama wanita lain, sembari menuntut Elio tetap bertahan sebagai istri sah yang penuh pengertian.
"Aku tidak akan meninggalkanmu. Kau tetap istriku satu-satunya yang aku miliki. Kau tetap orang yang paling penting dan aku akan tetap menomorsatukanmu."
Ucap Ayden kala itu, meracik kalimat manis yang terasa seperti racun lambat. Pria itu ingin tetap memajang Elio di rak tertinggi, utuh, indah, dan tak tersentuh dari jauh, sementara esensi pernikahan mereka telah hancur berkeping-keping di atas lantai marmer rumah mereka.
Elio berdiri mematung, menyadari realitas pahit bahwa ia telah berubah menjadi pajangan di rumahnya sendiri, terlalu berharga untuk dibuang, namun terlalu retak untuk dicintai lagi dengan utuh.
Di tengah keheningan yang mencekam, ia hanya bisa bertanya pada bayangannya yang gemetar, berapa lama lagi ia mampu mempertahankan senyum tipis di atas puing-puing hatinya dan pernikahan yang telah ia bangun selama 8 tahun, sebelum serpihan kaca kepercayaan itu akhirnya merobek jiwanya hingga tak bersisa?