PenulisMengetik
- Reads 4,673
- Votes 912
- Parts 26
Bagi Aralie, hidup adalah garis presisi di atas kertas kalkir. Semuanya harus terukur, stabil, dan tanpa gangguan. Terutama setelah masa lalunya yang berantakan, dia membangun dinding yang lebih tinggi dari maket mana pun yang pernah dia buat di studio Arsitektur.
Lalu datang Levi.
Mahasiswa baru yang tidak membawa penggaris besi, melainkan kaos Nirvana pudar, Vespa matic yang berisik, dan keberanian yang tidak tahu tempat. Levi adalah anomali. Dia adalah distorsi di tengah keheningan yang Aralie bangun dengan susah payah.
Awalnya hanya soal kaos kebesaran yang tertinggal dan aroma parfum musk di tengah dinginnya studio. Namun, perlahan Aralie sadar; Levi bukan sekadar maba tengil yang hobi mengacaukan harinya. Levi adalah melodi grunge yang pecah di tengah kesunyiannya.
Di antara debu maket, kopi dingin pukul tiga pagi, dan bisingnya tongkrongan DKV, Aralie dipaksa memilih: tetap berada di dalam garis presisinya, atau membiarkan Levi membuktikan bahwa perasaan mereka ternyata... Louder Than Grunge.