PangsitRebus930
- Reads 2,500
- Votes 247
- Parts 34
Author's Note ⚠️
Cerita ini murni hasil imajinasi dan karya asli penulis. Ditulis dengan waktu, tenaga, dan perasaan.
⚠️ DILARANG KERAS menyalin, menjiplak, mengklaim, atau mempublikasikan ulang sebagian maupun seluruh isi cerita ini ke platform mana pun tanpa izin penulis.
Plagiarisme adalah tindakan tidak terpuji dan dapat ditindak sesuai aturan yang berlaku.
Untuk para pembaca, mohon bijak dalam membaca. Hormati karya, penulis, dan sesama pembaca.
Gunakan bahasa yang sopan di kolom komentar, tidak menyebarkan kebencian, tidak memaksakan opini, dan tidak membawa isu sensitif secara berlebihan.
Jika ada kritik atau saran, silakan disampaikan dengan bahasa yang santun dan membangun.
Terima kasih sudah membaca dan menghargai karya ini ✨
__________________
"Tolong biarkan aku hidup tenang. Sehari saja."
Kalimat itu tertulis di buku harian Jenggala, tanpa tanda seru, tanpa tangis. Terlalu lelah untuk berteriak, terlalu terbiasa untuk berharap.
Jenggala hidup, tapi tidak benar-benar menjalani hidup. Hari-harinya dipenuhi suara yang melukai, tangan yang tak pernah ramah, dan luka yang dipaksa sembuh sebelum sempat bernapas. Ia tak meminta bahagia-ia tahu itu kemewahan. Ia hanya ingin satu hari tanpa rasa takut, tanpa bentakan yang datang lebih dulu dari pagi, tanpa sakit yang harus ditelan diam-diam.
Namun dunia seolah menolak permintaannya. Tenang adalah hal yang selalu luput, seperti cahaya yang sengaja dipadamkan setiap kali ia mencoba mendekat. Senyum pun menjadi barang asing, sesuatu yang pernah ada, tapi kini tak lagi ia kenali.
"Senyuman lo terlalu mahal, kak," ucap Aruna pelan.
"Saking mahalnya... gue gak pernah lihat lo senyum."
Jenggala tak menjawab. Karena ada luka yang tak bisa dijelaskan dengan kata- dan ada hidup yang terlalu menyakitkan untuk sekadar tersenyum.