_shinningstar
Isvara menyandarkan tubuhnya dibalik pintu kamarnya, pandangannya menatap kebawah.
Air matanya meluruh, bersamaan dengan setiap luka yang menghimpit dadanya.
Tangisan yang ia tahan seharian ini, luruh ketika malam tiba.
Tubuh Isvara merosot, ia menenggelamkan kepalanya dibalik lipatan kedua tangannya.
Bahunya bergetar dengan hebat, isak tangis tanpa suara, dan hening malam yang menjadi saksi bisu atas kepiluan seorang Gadhisa Isvara.
Konon katanya, untuk menjadi lebih kuat, memang harus dihantam ratusan bahkan ribuan kali untuk mencapai titik paling kuat, kan?
Inilah, yang dialami Isvara, sebagai anak pertama, dan anak perempuan satu-satunya.
Dituntut, untuk selalu mengerti, menerima segalanya tanpa tapi. Tuhan memang tidak tidur, ia juga tidak buta, untuk menjalani kehidupan, kita memang perlu sabar lebih banyak, kuat lebih banyak.
"Gue cuma mau tenang, gue cuma mau ngerasa aman" lirih Isvara
Tangisannya mereda, namun bukan berarti seluruh lukanya ikut mereda, yang Isvara mampu lakukan sekarang hanyalah, memeluk jiwanya yang penuh luka lebam, yang jarang sekali merasa aman.
Keluarga ataupun pasangan, menurut Isvara, tidak ada bedanya, menurutnya, rumah yang menjadi tempat pulang, hanya dirinya sendiri.
Yang tidak beranjak pergi, yang memeluk jiwanya, hanya dirinya.
"Gue yang lemah, atau dunia yang terlalu kejam ke gue? Haha, gue ngerasa jadi kerdil ditengah-tengah kerumunan manusia" pikir Isvara
"Berlebihan ga ya? Kalau gue mau ada orang yang bisa ngeliat air mata gue tanpa perlu gue nangis lebih dulu? Berlebihan ga ya? Kalau gue mau ada orang yang paham sama tangisan gue tanpa perlu gue ngejelasin kenapa gue nangis?"
"Sialan, Ara, lo alay banget"
©® : publis : 17/12/2025