FadlinaZaini4's Reading List
51 stories
Echoes In The Snow  by Sofya_jkp
Sofya_jkp
  • WpView
    Reads 59
  • WpVote
    Votes 18
  • WpPart
    Parts 23
Di bawah langit Seoul yang kelabu, empat nyawa bertemu dalam sebuah takdir yang tak seharusnya bersinggungan. William dan Est datang dari hangatnya Bangkok dengan harapan besar, namun yang mereka temukan hanyalah dingin yang membekukan kejujuran. Di sisi lain, Jeno dan Jaemin adalah potret kesempurnaan semu Korea-masker yang mereka pakai terlalu rapat hingga mereka lupa cara bernapas. Ini bukan sekadar cerita tentang cinta. Ini tentang langkah-langkah kaki yang harus dihapus oleh salju sebelum orang lain melihatnya. Tentang bagaimana "rumah" bukan lagi sebuah tempat, melainkan sebuah pelukan rahasia di balik lorong gelap Gangnam.
Nakal: di bawah kendali junir by pesawiest
pesawiest
  • WpView
    Reads 51
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 4
Jadi ini tentang William est ya, kalau semisal ada yang persis, aku nggak copy punya orang lain ini aku dapet ide dari ai. semoga kamu suka bacanya ขอบคุณ
new by ekabws3009
ekabws3009
  • WpView
    Reads 309
  • WpVote
    Votes 57
  • WpPart
    Parts 4
sang mantan
Room 08 Is Mine [END] by EstJakrapatr
EstJakrapatr
  • WpView
    Reads 1,248
  • WpVote
    Votes 158
  • WpPart
    Parts 60
Di rumah kos itu, kamar nomor delapan selalu kosong. Sampai Est datang. William tidak pernah peduli siapa yang tinggal di sana. Ia juga tidak pernah peduli pada siapa pun. Begitulah orang-orang mengenalnya. Dingin. Sulit didekati. Tidak ramah. Tapi ketika pintu dengan angka 08 itu tertutup untuk pertama kalinya, lorong rumah itu terasa berbeda. Dan William mulai sadar-jarak beberapa langkah bisa terasa lebih jauh dari yang seharusnya. Karena mungkin, yang paling sulit bukan mendekat. Tapi mempertahankan dinding yang sudah terlalu lama dibangun.
Karmic Stitch by MilaDamayanti166
MilaDamayanti166
  • WpView
    Reads 979
  • WpVote
    Votes 133
  • WpPart
    Parts 22
​Est Shupa Sangaworawong adalah sisa-sisa sebuah elegi. Di usianya yang ke-32, ia adalah seorang martir bagi seninya sendiri; seorang pria yang percaya bahwa keindahan hanya bisa lahir dari rahim penderitaan. Baginya, setiap tusukan jarum di ujung jemarinya adalah sebuah doa, dan setiap tetes darah yang menodai kain sutranya adalah harga yang pantas untuk sebuah mahakarya yang bernyawa. ​Namun, doa-doa pedih itu terdengar hingga ke puncak menara kaca di Sukhumvit, tempat William Jakrapatr Kaewpanpong bertahta. ​William adalah predator dengan wajah malaikat dan tangan sedingin logam mesin tenun. Ia tidak menginginkan desain Est; ia menginginkan rasa sakit Est. Dengan kekuasaan yang absolut dan usia yang lebih muda namun jauh lebih bengis, William datang bukan untuk menyelamatkan Est dari kemiskinan, melainkan untuk mengurungnya dalam sebuah sangkar emas yang kedap suara. ​Di rumah itu, William adalah pemilik napas dan pengatur luka. Ia mengajari Est bahwa pengabdian yang paling murni bukanlah tentang cinta, melainkan tentang penyerahan diri yang total di bawah ujung jarum yang dikurasi. ​Ini adalah tarian antara dua jiwa yang rusak: seorang pria yang merindukan rantai, dan seorang pria yang terobsesi menjadi sipirnya. Sebuah hubungan yang terjalin erat dalam filosofi Sangara-bahwa cinta dan siksaan hanyalah dua helai benang yang dipilin menjadi satu kain kafan yang indah. ​"Jangan memohon ampun padaku, Est. Karena di dunia yang kuciptakan untukmu, rasa sakit adalah satu-satunya cara agar kau tetap merasa hidup."
After WE by aestaxyz
aestaxyz
  • WpView
    Reads 714
  • WpVote
    Votes 37
  • WpPart
    Parts 7
Masa itu sudah selesai. Tidak ada pengumuman resmi tentang akhirnya-hanya jadwal yang berhenti, nama yang tidak lagi bersebelahan, dan kehidupan yang perlahan kembali ke bentuk semula. Dua aktor, dua jalan, dua ritme yang tidak lagi harus diselaraskan. Di luar sana, semuanya tampak berjalan seperti biasa. Sesekali, ada kabar yang lewat. Tidak penting, tidak mendesak. Hanya sapaan singkat, dikirim tanpa alasan khusus, tanpa niat untuk membuka kembali sesuatu yang sudah lewat. Tidak ada yang perlu dijelaskan, dan tidak ada yang perlu disimpan. Mereka tahu batas. Mereka juga tahu ingatan. Apa yang pernah ada tidak diulang, tapi juga tidak dihapus. Ia tinggal di tempat yang aman-tidak disentuh, tidak dipamerkan. Cukup untuk diketahui oleh dua orang saja. Setelah itu, hidup terus berjalan. Dengan atau tanpa seseorang di samping. Dan mungkin, itulah yang tersisa setelah WE tidak lagi menjadi sesuatu yang harus disebutkan. - A tiny disc : Most explains- not based on real life but i am trying to figure out. Also sorry because there was revision of the origin vers. 🙏🏻
RASA YANG HARUS DIHAPUS by Ayanaunn
Ayanaunn
  • WpView
    Reads 407
  • WpVote
    Votes 24
  • WpPart
    Parts 8
meneceritakan dua kaka beradik yang memiliki rasa sayang atau cinta namun bukan hanya sekedar kasih sayang dua orang bersaudara. Rasa yang harusnya tidak boleh hadir di antara mereka. Haruskah William dan Est mengungkapkan perasaan mereka terhadap satu sama lain? atau lebih baik dipendam sampai rasa itu hilang?.
The Last World I Remember by MilaDamayanti166
MilaDamayanti166
  • WpView
    Reads 1,134
  • WpVote
    Votes 93
  • WpPart
    Parts 13
Terbangun dari koma selama tiga tahun adalah keajaiban bagi keluarga besar Jakrapatr. Namun bagi William, ia merasa seperti ditarik paksa dari sebuah mimpi panjang yang hanya menyisakan satu nama di ujung lidahnya: "Est." ​Nama itu menjadi kata pertama yang ia ucapkan saat membuka mata, yang seketika mengubah rasa haru orang tuanya menjadi kemarahan dingin. William melewatkan masa SMA-nya, melewatkan kelulusannya, dan yang paling parah-ia melewatkan tiga tahun hidup Est Shupa, pria yang empat tahun lebih tua darinya.
ROMEMHOK [williamest ID version] by nanaaaxx__
nanaaaxx__
  • WpView
    Reads 56
  • WpVote
    Votes 3
  • WpPart
    Parts 2
Ruang medis itu sepenuhnya sunyi. Mhok duduk di samping tempat tidur, jari-jarinya mencengkeram erat sandaran tangan kursi. Rome terbaring tak sadarkan diri, napasnya lambat dan pendek, masker oksigen menutupi wajahnya. Mhok membenci ini. Masih benci dengan pemandangan Roma. Benci karena dia tidak bisa berbuat apa-apa selain menunggu. "Kamu harus istirahat." Mhok tidak berbalik. --------- "Kamu bukan dokter, Mhok. Duduk di sini tidak akan mengubah apa pun." Rahang Mhok menegang. "Kalau begitu, katakan padaku apa yang akan terjadi."