namdosaniu
- Reads 10,019
- Votes 856
- Parts 51
Mencintai tidak selalu perihal mengingat setiap detail kejadian, melainkan tentang bagaimana tubuh mengenali siapa pemiliknya.
Ini adalah kisah tentang dua jiwa yang terperangkap dalam jeda waktu yang kejam. Di satu sisi, ada dia yang dipaksa melupakan, hidup dengan rekaman memori yang berbunyi seperti kaset rusak-penuh noise, terdistorsi, namun menyisakan gema kerinduan yang menyakitkan. Di sisi lain, ada dia yang dipaksa mengingat sendirian, menjadi museum berjalan bagi kisah yang telah hangus terbakar.
Ketika logika menyerah pada amnesia, tubuh justru mengambil alih kendali. Jantung yang berdebar tanpa alasan dan kaki yang melangkah tanpa peta menjadi penunjuk arah di tengah butanya ingatan.
Namun, semesta terkadang gemar bercanda. Saat pertemuan kembali justru membawa rasa sakit fisik yang mematikan, perpisahan dianggap sebagai satu-satunya obat. Sang pemilik memori memilih pergi untuk menyelamatkan nyawa, sementara sang pencari memilih nekat untuk menyelamatkan hati.
Hingga pada akhirnya, sang pengelana sadar bahwa sejauh apa pun ia tersesat, ia hanyalah sebuah satelit yang kehilangan orbit. Ia tak akan pernah berhenti berputar gelisah sebelum kembali ditarik oleh satu-satunya gravitasi yang ia miliki: pulang pada pusat semestanya, pada Bumi-nya.
"Di antara milyaran manusia, kenapa harus kamu yang jadi poros semestaku? Mungkin karena di matamu, aku nemuin rumah yang nggak pernah punya alamat." - Arkananta Mahardika