callme_icha
Lio baru lima tahun, tapi ia sudah mengenal rasa takutㅡtakut jatuh, takut gagal, takut mengecewakan ayahnya. Setiap kali sepedanya oleng, lututnya memar, tapi yang paling perih ternyata bukan luka di kulit, melainkan tatapan kecewa yang ia pikir datang dari orang tuanya. Padahal, mungkin Andra dan Naya juga sama takutnyaㅡtakut tak menjadi orang tua yang cukup baik.
Andra, seorang ilustrator yang kehilangan arah setelah proyek hidupnya gagal. Naya, dosen psikologi anak yang bisa menjelaskan teori tentang resiliensi, tapi kehilangan keseimbangannya sendiri. Di antara tumpukan cucian, deadline, dan tawa kecil Lio yang sering berubah jadi tangis, mereka belajar satu hal penting: kadang keseimbangan bukan dicari di sepeda, tapi di hati yang mau saling menunggu.
Karena hidup, seperti belajar bersepeda, tak selalu tentang siapa yang paling cepat melaju. Tapi tentang siapa yang mau terus mengayuh, meski sempat jatuh, dan memilih bangkit lagiㅡbersama.