naya_zayyin
- Reads 5,023
- Votes 901
- Parts 14
"Bacaan Qur'an kamu tartil sekali. Hafalan kamu juga bagus, lancar. Makhorijul hurufnya benar semua. Suara kamu masyaa Allah merdunya. Tadi, pas kamu baru baca taawuz aja, saya langsung terpesona."
"Hehe, terima kasih, Bu. Duh, saya jadi malu."
"Eh, siapa tadi nama kamu? Kun... "
"Kunir, Bu."
"Ku...nir? Kunir itu kunyit, kan? Nama kamu berasal dari nama rempah?"
"Hehe, iya. Ibu orang Jawa, ya? Kok tahu kalau kunir itu kunyit?"
"Bukan, saya orang sini asli. Tapi saya gak asing sama nama-nama rempah dalam berbagai bahasa. Jadi, kenapa nama kamu kunir? Ada filosofinya?"
"Kalau dari yang saya pelajari, menurut ilmu psikologi, warna kuning dapat memunculkan rasa optimis. Kunyit warnanya kuning kan, Bu? Jadi, saya berharap hidup saya selalu dipenuhi perasaan optimis dalam segala situasi. Filosofi itu juga yang bikin saya ndak mau nyerah sama semua keadaan. Tapi ini karangan saya sendiri sih, hehe. Duh, maaf saya jadi panjang lebar."
"Kamu cantik, cerdas, suara kamu bagus, hafizah pula. Kamu manusia atau bukan? Hampir sempurna, loh."
"Saya punya buanyak kekurangan, Bu. Ndak bisa masak salah satunya. Bukankah itu problem terbesar bagi seorang wanita?"
"Nama kamu diambil dari rempah masakan, tapi kamu gak bisa masak? Kamu semakin terlihat unik di mata saya."
-----
Namanya Kunir. Nama yang unik, seunik kepribadiannya. Ia gadis yang ceria dan mudah membuat siapa pun suka. Orang-orang menganggapnya selalu bahagia, tanpa tahu bahwa ia menyembunyikan segunung luka.
Namanya Kunir. Gadis ceria yang tak pandai membagi duka, meski dengan orang terdekatnya. Gadis yang gigih dan tak pernah mau menyerah pada apa saja, meski kehilangan kebahagiaan menjadi taruhannya.