NayaRasin
Zea bersembunyi dibalik sisi lugunya. Berlagak layaknya murid teladan yang selalu dibanggakan. Dibaliknya dia menyimpan banyak masalah, menyembunyikannya dalam wujud senyum hampa.
Sosok rival sekaligus ketua Geng Demon menjadi hambatan kecil, namun bukan itu. Perlahan Enggar, seolah ingin mengupas habis sisi dirinya, membuka kedok yang sesungguhnya.
Kepalsuan dan kesenangan sementara memutar alih kendali. Zea merasa ini tak cukup, dia harus menjauhi Enggar atau rencananya akan berantakan. Sayangnya itu bukan perkara mudah, dia seakan terjerat ikatan tak kasat mata, menyesatkan juga menjatuhkan. Sehingga tak ada pilihan lain. Menyerah pada takdir dan membiarkan Enggar mengetahui semuanya.
Namun, bukannya semakin membaik, Zea merasa semakin sulit, perangkap yang pernah dia rancang seolah melilitnya semakin kuat. Ditambah hadirnya sosok lain dalam rupa yang menyerupainya, mengaku memiliki darah yang sama. Dia datang dengan maksud tertentu; berusaha mengulas cerita lama, berusaha mencairkan hati Zea yang beku. Dan hadirnya juga, menoreh luka baru.
"Jadi diri lo sendiri. Karena tidak akan mustahil, perasaan gue tetap sama"