aksaraaa_dien
Bagi Lili, liburan dua minggu ke Yogyakarta bukan cuma soal pamer foto di media sosial atau kabur dari tugas kuliah di Jakarta. Ini adalah perjalanan pertamanya sendirian, mencari tahu kenapa orang tuanya selalu menyebut Jogja sebagai rumah, meski ia besar di Bekasi. Ada kehangatan yang menyentuh saat kakinya pertama kali menginjak peron Stasiun Lempuyangan-sebuah rasa "pulang" yang janggal namun mendalam, seolah kota ini sudah mengenalnya jauh sebelum ia tiba.
Awalnya, Lili berharap Mas Rian, kakaknya yang sudah lama menetap di sana, bisa menjadi pemandu jalan yang seru. Alih-alih menjadi tour guide yang mumpuni, kakaknya itu justru lebih banyak memberikan "omong kosong" dan janji-janji destinasi yang tak kunjung terwujud karena kesibukannya sendiri. Hingga pada satu titik, Mas Rian justru memberikan solusi yang tidak pernah Lili duga: menitipkan seluruh hari-harinya di Jogja kepada Pramuda.
Di tangan Pram, Jogja tidak lagi berisi bualan berisik seperti saat bersama Rian. Pram membawa Lili masuk ke lapisan-lapisan kota melalui bahasa bisu dan perhatian-perhatian kecil yang sulit dibaca. Pria itu mampu membuat sudut-sudut jalanan Jogja terasa begitu intim hanya melalui selembar struk belanja yang ia selipkan di antara jemari Lili. Kini, Lili mulai terjebak dalam teka-teki yang ia buat sendiri.
Jika benar Pram hanya sedang menjalankan amanah dari kakaknya, lantas mengapa setiap sasmita yang pria itu berikan selalu terasa seperti sebuah undangan untuk menetap lebih lama?