Daftar bacaan blackrosse31
2 stories
Plea For Ginger by pretejel
pretejel
  • WpView
    Reads 269,658
  • WpVote
    Votes 17,107
  • WpPart
    Parts 18
Dua tahun bekerja di bawah tekanan Reale, membuat Riley Jeane kebal pada setiap ejekan dan amarah pria itu. Ia diam dan menelan semua perlakuan kasar Sang Jaksa. Hingga suatu hari, Riley membalikkan keadaan dengan satu jebakan, satu malam yang justru mengubah segalanya. Lalu setelah itu Riley menghilang, meninggalkan Reale tanpa penjelasan. Beberapa waktu berlalu, Reale kembali bertemu dengannya, bukan sebagai bawahannya, tapi sebagai asisten pribadi saudaranya sendiri. Di situlah obsesi Reale dimulai. Semakin perempuan itu menjauh, semakin ia sadar, bahwa semua amarah, semua makian, bukan karena benci tapi karena ia tak pernah bisa berhenti memikirkan gadis itu. Riley boleh pergi sejauh apa pun, namun Reale bukan pria yang akan melepaskannya begitu saja. Reale akan mengambil kembali apa yang pernah menjadi miliknya, termasuk Riley Jeane.
Do you remember your first cup of coffee? by Calamummeum
Calamummeum
  • WpView
    Reads 1,880,282
  • WpVote
    Votes 171,110
  • WpPart
    Parts 57
[SELESAI] "Lo ngomong langsung ke dia?" Medhya mengangguk mantap. "Bilang kalau lo suka sama dia?" Ia mengangguk lagi. "Yang lo maksud itu, Ginan Satyatama yang ada dipikiran gue, kan?" Medhya menyerngit. "Memang, ada berapa Ginan Satyatama di kantor kamu?" Gadis itu balik bertanya. "Ya ... satu, sih." Sang teman garuk-garuk kepala. "Maksud gue. Elo ini ..." ia mengangkat telunjuk kearah pelipis, memutar-mutarnya dengan perlahan. "... sinting?" Medhya menggeleng santai. "Aku waras. Seenggaknya, sampai detik ini, masih." Sang teman menghela napas panjang. "Pantesan tiap papasan, dia selalu ngelihat gue kayak ngelihat tai kucing. Ternyata ini semua gara-gara elo." Medhya nyengir. "Terus gimana lagi sekarang?" Adinda bertanya lagi. Ia mendekat pada Medhya yang kini bersandar di kursi ruang tengah kontrakan. "Nyerah?" Medhya langsung menoleh. "Mana mungkin," ujarnya pendek, senyum-senyum. "Dia nggak nolak aku. Kenapa aku harus menyerah?" Betul. Ginan Satyatama tak pernah menolaknya. Saat mendengar pengakuannya, lelaki itu hanya menatapnya datar, lalu mengatakan beberapa kalimat yang tidak mengandung sedikitpun penolakan. Itu artinya, kesempatan Medhya masih terbuka lebar. Masih banyak hari yang tersedia untuk menyatakan kembali perasaannya pada Ginan Satyatama. Jadi, bagaimana bisa Medhya menyerah kalau kisah mereka bahkan belum dimulai sama sekali?