Reda__Semestaa
- Reads 595
- Votes 35
- Parts 26
Hari di mana aku berhenti menyalahkan SEMESTA.
Pernah nggak sih, kita ngerasa langit malam di atas kepala kita terasa jauh lebih pekat dari biasanya?
Di saat kehilangan terbesar datang mengetuk pintu rumah, disusul runtuhnya kehangatan keluarga yang selama ini kita sebut tempat pulang. Pas kita nyoba berdiri di atas kaki sendiri, mimpi yang kita bangun dengan sisa-sisa tenaga malah bangkrut dan hancur berantakan.
Akhirnya, kita terpaksa bertahan di ruang kerja yang penuh racun, menukar keringat dan harga diri demi upah yang tak seberapa. Dan tepat di titik terendah itu, satu-satunya tangan yang kita harap bisa mendekap, justru pergi menjauh, memilih bersanding dengan yang lain dan meninggalkan perih yang luar biasa.
Saat badai itu datang beruntun tanpa jeda, wajar banget kalau kita merasa dunia ini nggak adil. Logika kita bakal lelah berteriak mencari jawaban "Kenapa harus kita?", sementara hati kita pelan-pelan mati rasa karena terlalu sering dihantam rasa sakit. kita pengen marah, pengen mengumpat, dan menyalahkan takdir yang terasa begitu kejam.
Tapi, sampai kapan kita mau terus-menerus berperang dengan keadaan?
Buku ini hadir bukan untuk menceramahi atau menyuruh kita langsung tersenyum di tengah hujan badai. Buku ini adalah sebuah ruang sunyi, sebuah pelukan hangat di antara lembar-lembar kertas, tempat kita bisa duduk bersandar dan mengakui bahwa kita sedang tidak baik-baik saja.
Melalui untaian kata di dalamnya, kita bakal diajak menyelami seni menyikapi luka. Ini adalah sebuah perjalanan magis tentang cara memungut kembali serpihan diri yang sudah hancur. Bukan untuk meratapi apa yang telah hilang, melainkan untuk melipat setiap perih, kecewa, dan air mata itu dengan rapih, Hari di mana aku berhenti menyalahkan SEMESTA.