;
35 stories
Gadis yang Membutuhkan Payung ✓ par hidrolisis
hidrolisis
  • WpView
    LECTURES 3,385
  • WpVote
    Votes 558
  • WpPart
    Chapitres 1
❝ Tidak ada tempat dengan sebutan rumah di dunia ini, bagi Rimbi. ❞ ©hidrolisis | 2018
Hi, Congratulations! [1/1] par cikiboncabe
cikiboncabe
  • WpView
    LECTURES 420
  • WpVote
    Votes 114
  • WpPart
    Chapitres 1
Karena satu kata bukan berarti memiliki satu rasa. (Image in cover taken from pinterest)
Salah Siapa? [1/1] par cikiboncabe
cikiboncabe
  • WpView
    LECTURES 2,380
  • WpVote
    Votes 434
  • WpPart
    Chapitres 1
Dari semua hal yang terjadi, siapa yang harus disalahkan? (Image in cover taken from pinterest)
Permohonan. par birgieyo
birgieyo
  • WpView
    LECTURES 1,553
  • WpVote
    Votes 447
  • WpPart
    Chapitres 1
"Ayah ..., aku mau donat." "Iya, nanti, ya. Kalau ayah ada uang, pasti ayah belikan." "Aku maunya sekarang!" "Ya sudah, kamu pulang dulu nanti ayah belikan." "Benar ya, Yah?" "Iya." "Janji?" "Janji." [2018 | sekali-tamat.] *** cover by @shadriella
Orang-Orang Terlupa par aotsuki_chan
aotsuki_chan
  • WpView
    LECTURES 522
  • WpVote
    Votes 75
  • WpPart
    Chapitres 1
Mereka, orang-orang yang terlupakan. A-we-some cover by @GeenaAG. Copyright ©2016 by @aotsuki_chan.
Bayi Para Nepotis par havelunch
havelunch
  • WpView
    LECTURES 22,563
  • WpVote
    Votes 4,112
  • WpPart
    Chapitres 3
Apalagi yang perlu saya cari di luar ketika lantai rumah saya sudah menumbuhkan bermacam-macam cara untuk bertahan hidup? Apalagi yang perlu saya cari di luar ketika atap rumah saya sudah lebih dari sekadar melindungi dari hujan? Serta apalagi yang perlu saya cari di luar ketika jendela-jendela rumah saya disuguhkan untuk memandikan mata saya dari penatnya rutinitas? ©2017
Sampah #1: Bungkus Rokok par kontradiksi
kontradiksi
  • WpView
    LECTURES 16,120
  • WpVote
    Votes 3,110
  • WpPart
    Chapitres 1
Hampir tiga tahun. Selama itu aku berjuang setengah mati demi satu kursi kedokteran di universitas negeri. Konon katanya biayanya tidak semahal swasta. Tapi aku juga tidak ambil pusing karena pemerintah masih berbaik hati memberikan Bidikmisi. Semoga saja aku bisa lolos dengan Bidikmisi. Semoga. Ayah dan Ibu tidak terlalu berharap. Mungkin mereka tidak bilang secara tersurat, tapi aku tahu mereka lebih senang kalau aku memilih jurusan yang semesternya sedikit. Biar cepat lulus. Cepat dapat uang. [Sekarung Sampah Untuk Indonesia #1]
Sampah #6: Recehan Kadaluarsa par kontradiksi
kontradiksi
  • WpView
    LECTURES 5,798
  • WpVote
    Votes 1,521
  • WpPart
    Chapitres 1
Pernah memberikan secercah uang Anda untuk pengemis? Merasa iba jika pengemis itu membawa bayi atau anak-anak? Berharap uang Anda akan membantu ekonomi mereka? Coba pikir lagi. Jika Anda pernah menghabiskan waktu dengan seorang bayi, Anda pasti menyadari bahwa bayi sangat mudah terbangun dari tidurnya. Entah itu karena lapar, buang air, atau kaget. Coba bayangkan jika bayi itu berada di sebuah tempat yang bising dan tidak nyaman. Apakah bayi itu tidak akan terganggu? Sekarang coba bandingkan dengan bayi-bayi yang dibawa pengemis. Di terminal maupun di lampu merah, suasananya hiruk pikuk dan tidak sesuai untuk bayi yang sedang tidur. Mereka juga dibawa berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain. Terkadang bahkan bayi itu dibawa berlari mengejar bus kota. Tapi bayi itu tetap saja terlelap di alam tidurnya. Pernah Anda berhenti sebentar dan berpikir kenapa? [Sekarung Sampah Untuk Indonesia #6]
Sampah #7: Masker Bedah par kontradiksi
kontradiksi
  • WpView
    LECTURES 4,983
  • WpVote
    Votes 1,248
  • WpPart
    Chapitres 1
"Jadi, saya harus bayar berapa?" Mencuri dengar itu tidak baik, bukan? Siapa tidak tahu hal itu? Tidak ada. Siapa yang peduli? Tidak ada juga. Apalagi, aku mendengar namaku disebut. Rasa penasaranku terlanjur menggebu-gebu. Bagaimana tidak? Ayahku akhirnya menelepon koleganya. "Empat puluh saja, Pak." Untung bagiku, ayah selalu memasang telepon dalam volume keras. Tidak perlu sampai berjongkok dalam gelap, jawaban di seberang sana sudah jelas terdengar. "Tapi anak saya bener bisa masuk kedokteran?" Jantungku berdegup kencang. Liar. Jawaban kolega ayah akan menentukan nasibku. Jawaban yang bisa menjadi penolakan kelima, atau sebaliknya. "Bisa. Nanti ikut tes untuk formalitas. Sisanya akan saya urus." [Sekarung Sampah Untuk Indonesia #7]
Suara Mesin, Suara Rakyat par someonefromthesky
someonefromthesky
  • WpView
    LECTURES 982
  • WpVote
    Votes 189
  • WpPart
    Chapitres 1
Di masa depan, manusia bisa sepenuhnya menjalankan demokrasi langsung dengan bantuan mesin. Namun benarkah sistem ini dapat memberikan rasa keadilan bagi manusia? 🏆Pemenang Sayembara Cerpen Fiksi Ilmiah Vol. 2 Serana 42