Nuraelienne
Setiap sore adalah kala yang bekerja diam-diam menyimpan jejak, menyulam ingatan, lalu membiarkannya bersemayam tanpa suara. Bagi Aira, semuanya bermula dari sebuah buku harian lama yang tersembunyi di sudut lemari; peninggalan ibunya, Tanisha.
Di dalamnya, terlipat kisah-kisah masa muda: hari-hari berseragam abu-abu, rapat OSIS yang riuh, mimpi yang masih suci, dan rasa yang tumbuh tanpa sempat diberi makna. Lembar demi lembar menjadi pralaya kecil-peralihan antara yang pernah ada dan yang kini tinggal sebagai ingatan.
Melalui catatan-catatan itu, Aira menapaki fragmen waktu yang tidak selalu utuh, namun penuh denyut kehidupan. Tentang tawa, kebimbangan, dan kehadiran yang datang tanpa nama, tanpa janji.
Di antara aksara yang tenang dan kenangan yang berserak, tersimpan satu pemahaman sederhana: bahwa tidak semua pertemuan menuntut akhir, dan tidak semua cerita meminta untuk disimpulkan. Sebagian hanya ingin dibaca-lalu disimpan, sebagaimana adanya.