Arrrka's Reading List
3 stories
SEDUH ULANG by Arrrka
Arrrka
  • WpView
    Reads 69
  • WpVote
    Votes 7
  • WpPart
    Parts 10
EPILOG - SEDUH ULANG Beberapa utang nggak bisa lunas pake uang. Harus dibayar pake hujan. Bagas Arkananta pernah punya mimpi bernama Seduh Dini Hari. Kafe kecil di Tunjungan, dengan notes biru berisi rumus 40-30-20-10. Lalu promo kopi 9 ribuan datang dari seberang jalan. Dalam tiga bulan, rolling door-nya turun. Permanen. Tujuh tahun kemudian, Bagas jadi barista di Kala Senja Tugu, Jogja. Bosnya Gilang Saputra. Dingin, sinis, paling hobi bilang waste ke semua ide. Di hari pertama, Gilang merobek notes biru itu. Yang Bagas nggak tau: Gilang yang gunting pita 9 ribuan tujuh tahun lalu. Yang Bagas nggak tau: tiap malem setelah itu, Gilang muntah sambil nulis nama-nama yang dia bunuh di buku besarnya. SDH. WBD. AMB. RYN. Empat UMKM. Empat nyawa. Satu post-it: Keuntungan paling mahal seumur hidup. Lalu jam 00:00 di Tugu, di antara dua kopi dingin dan laptop Excel yang menyala, Gilang ngomong dua kata: "Maaf, Gas." Seharusnya Bagas nonjok. Seharusnya dendam. Tapi dia malah nyodorin tangan. "Ajarin aku bikin shield, Mas. Biar besok kalau ada Lang lain, aku nggak jadi rain lagi." Maka dimulailah audit paling panjang: menagih dividen dari masa lalu. Dengan jam Casio KW 85 ribu sebagai bukti bayar. Dengan ferry ke Madura buat salim ke Bu Diah. Dengan nisan Koh Ryen yang cuma bisa dibayar pake hujan. Sampai neraca 7 tahun itu akhirnya 0. Balance. Ini bukan cerita tentang CEO yang jatuh cinta sama barista. Ini cerita tentang dua orang yang kehujanan di tahun yang sama, tapi baru bisa berteduh bareng tujuh tahun kemudian. Di halaman terakhir notes biru, Gilang nulis: 40% buat lo, 30% buat gue, 20% buat masa lalu, 10% buat kita. Balance nggak? Bagas jawab: Balance, Mas. Tapi kurang setoran modal. Kereta Senja Utama lewat. Kali ini nggak ada yang diem. Karena beberapa closing memang harus dirayakan pake ciuman, bukan laporan laba rugi. Kala Senja x Seduh Dini Hari Buka lagi. Di hati yang sama. ---
KALA SOEARA by Arrrka
Arrrka
  • WpView
    Reads 6
  • WpVote
    Votes 3
  • WpPart
    Parts 12
KALA SOEARA: SIARAN PAMIT Frekuensi yang Tidak Tercatat. Nama yang Tidak Boleh Disebut. Tahun 2025. Arsa, mahasiswa biasa, tanpa sengaja membuka peti peninggalan Eyang-nya: seorang mantan teknisi NIROM Hindia Belanda. Isinya cuma buku harian lusuh dan satu piringan hitam. Tapi tepat jam 01:00 malam, piringan itu berputar sendiri. "Siaran pamit malam ini... oentoek... Sastro, anak Lurah..." Besoknya, nama itu muncul di koran tua tahun 1931: "Anak Lurah Tewas Misterius." Tahun 1928. Pemancar Kala Soeara di Langen Mati, Magelang, nyaris ditutup Belanda. Lalu datang Van Der Meulen, Direktur NIROM, membawa solusi dari seorang dukun: Siaran Pamit. Aturannya sederhana. Tiap 35 purnama, sebut satu nama. Besoknya yang punya nama mati. Sebagai gantinya, sinyal jadi jernih, listrik satu kota menyala. Mas Djo, teknisi muda, dipaksa jadi "Djagal". Djagal suara. Tumbal pertamanya: anak Lurah. Tumbal terakhirnya: anaknya sendiri. Wiratmo, 5 tahun. Tahun 2025. Kutukan itu pindah ke digital. 97.4 FM. Frekuensi mati yang tiba-tiba hidup tiap purnama. Menyebut nama. Menagih nyawa. Arsa pikir dia korban. Ternyata dia cadangan. Eyang sengaja menikah lagi setelah mengorbankan Wiratmo, membuat garis keturunan baru. Garis keturunan Djagal. Arsa adalah cicilannya. Warisannya. Gantinya. Sekarang purnama ke-35 tiba. Arsa berdiri di ruang pemancar yang sama, memegang Pita MASTER. Di hadapannya ada 3 pilihan: Sebut namanya sendiri. Dia mati, kutukan putus 50 tahun. Sebut nama orang lain. Dia hidup, tapi jadi Djagal baru selamanya. Hancurkan semua. Dia mati, satu desa mati, tapi siaran berhenti selamanya. pilihan apa yang akan Arsa ambil ? Dia salah. Karena KALA tidak pernah mati. KALA hanya ganti penyiar. Dan jauh di bawah Monas, KALA-01 masih menyala. Menunggu Siaran Pamungkas miliknya. PERINGATAN: Jangan dengarkan 97.4 FM saat purnama. Jangan sahuti kalau ada yang memanggil namamu dari statis. Karena yang menyiar mungkin bukan orang. ---