Arrrka
EPILOG - SEDUH ULANG
Beberapa utang nggak bisa lunas pake uang. Harus dibayar pake hujan.
Bagas Arkananta pernah punya mimpi bernama Seduh Dini Hari. Kafe kecil di Tunjungan, dengan notes biru berisi rumus 40-30-20-10. Lalu promo kopi 9 ribuan datang dari seberang jalan. Dalam tiga bulan, rolling door-nya turun. Permanen.
Tujuh tahun kemudian, Bagas jadi barista di Kala Senja Tugu, Jogja. Bosnya Gilang Saputra. Dingin, sinis, paling hobi bilang waste ke semua ide. Di hari pertama, Gilang merobek notes biru itu.
Yang Bagas nggak tau: Gilang yang gunting pita 9 ribuan tujuh tahun lalu. Yang Bagas nggak tau: tiap malem setelah itu, Gilang muntah sambil nulis nama-nama yang dia bunuh di buku besarnya. SDH. WBD. AMB. RYN. Empat UMKM. Empat nyawa. Satu post-it: Keuntungan paling mahal seumur hidup.
Lalu jam 00:00 di Tugu, di antara dua kopi dingin dan laptop Excel yang menyala, Gilang ngomong dua kata: "Maaf, Gas."
Seharusnya Bagas nonjok. Seharusnya dendam. Tapi dia malah nyodorin tangan. "Ajarin aku bikin shield, Mas. Biar besok kalau ada Lang lain, aku nggak jadi rain lagi."
Maka dimulailah audit paling panjang: menagih dividen dari masa lalu. Dengan jam Casio KW 85 ribu sebagai bukti bayar. Dengan ferry ke Madura buat salim ke Bu Diah. Dengan nisan Koh Ryen yang cuma bisa dibayar pake hujan. Sampai neraca 7 tahun itu akhirnya 0. Balance.
Ini bukan cerita tentang CEO yang jatuh cinta sama barista. Ini cerita tentang dua orang yang kehujanan di tahun yang sama, tapi baru bisa berteduh bareng tujuh tahun kemudian.
Di halaman terakhir notes biru, Gilang nulis: 40% buat lo, 30% buat gue, 20% buat masa lalu, 10% buat kita. Balance nggak?
Bagas jawab: Balance, Mas. Tapi kurang setoran modal.
Kereta Senja Utama lewat. Kali ini nggak ada yang diem.
Karena beberapa closing memang harus dirayakan pake ciuman, bukan laporan laba rugi.
Kala Senja x Seduh Dini Hari
Buka lagi. Di hati yang sama.
---