Werfstria_
"Kenapa aku dilihati terus menerus?"
"Karna kamu tampan?" Jawab ku spontan.
"Eh? Hihi aku kan memang tampan sejak lahir."
Ia menatap ke arah ku dan menyunggingkan senyuman tengil seperti biasanya.
"Solasta."
"Hmm?"
"Solasta." Ucap ku lagi.
"Mataharinya?"
"Kamu."
"Matahari nya indah sekali. Lihat, sinar-sinar matahari yang tersaring di pohon-pohon ini? Walau terlihat silau tetapi karena tersaring pohon, dia jadi hangat dan indah."
"Aku tidak mengerti, tetapi kata-kata itu keren."
Aku tertawa renyah menanggapi jawaban nya. Mungkin memang aneh ya filosofi ku, tetapi memang begitu adanya. Aku harap nanti kalian juga akan paham.
"Ah, apa aku bisa menyatu dengan matahari ya? Lihat, silau dan memukai sekali." Kata ku.
"Tidak, tidak perlu. Karna menurut ku, kau sudah menjadi matahari."
Angin langsung berhembus kencang, menerbangkan rambut ku dan daun-daun kering yang ada di sekitar nya.
Sepertinya alam tidak setuju jika aku disamakan dengan matahari.
Iyakan?